Oleh Silvy Wantania.
Pada akhir tahun 1998 memasuki tahun 1999, setelah krisis ekonomi dan huru-hara Reformasi Mei 1998 mereda akhirnya saya memutuskan untuk kembali bekerja di bidang Pembangunan (Development) sesuai dengan pendidikan saya di bidang Study Pembangunan. Saya diterima bekerja sebagai Program Officer di sebuah LSM di Jakarta yang bergerak di bidang Kesehatan, khususnya program pencegahan HIV/AIDS di Papua.
Hari pertama bekerja, saya sempat terkejut dengan apa yang saya temukan di bawah meja kerja saya di kantor. Sekotak dildo-dildo kayu tentu saja dengan bentuk kelamin pria, tersimpan di situ. Ternyata itu adalah alat peraga untuk memakaikan kondom untuk cara pencegahan penyakit menular seksual.
Beberapa bulan awal, ini merupakan proses belajar mengenai program-program yang dijalankan oleh LSM ini. Ada dua bidang, pertama bidang yang berkaitan dengan program nutrisi, vaksinasi dan kesehatan ibu anak. Sedangkan bidang saya adalah pencegahan HIV/AIDS. Saya terlibat lebih banyak pada bidang pelatihan bagi para anggota LSM setempat, tentang cara penjangkauan dan penyuluhan HIV/AIDS di berbagai kalangan. Juga kami bekerja sama dengan dokter PUSKESMAS setempat, aparat desa dan Dinas Kesehatan mengadakan pengambilang sample di lokalisasi setempat untuk memetakan penyebaran HIV/AIDS. Selain itu juga saya mendampingi LSM lokal untuk mengadakan survey awal untuk mengetahui kebiasaan seksual target sasaran program.
Biak
Hingga satu waktu, saya ditugaskan untuk berkunjung ke Papua. Biak menjadi tujuan pertama.
Wah, ketika pesawat mendarat di Biak, saya merasa mimpi saya untuk menginjakkan kaki di tanah Papua akhirnya terwujud juga. Dulu cerita-cerita Papa tentang Papua kembali teringat, beliau sempat dikirim ke Papua dalam rangka Trikora.
Pada malam pertama, saya dan teman-teman LSM lokal mengadakan survey ke lokalisasi di Biak. Wisma-wisma terkumpul di satu lokasi. Di wisma pertama, kami mampir dan teman-teman LSM masuk ke dalam wisma untuk wawancara langsung dengan para PSK. Namun saya memutuskan untuk mewawancarai seorang ibu
yang kira-kira sudah berumur 50 tahunan, agak berisi, duduk di depan wisma.
Namun semua pertanyaan saya tidak terjawab, hanya jawaban tidak tahu yang keluar dari mulutnya. Pandangannya kosong dan selalu tertuju ke luar. Mungkin kurangnya pengalaman mengakibatkan gagalnya wawancara tersebut.
Ketika akhirnya teman-teman LSM keluar, kami bersama-sama meninggalkan wisma tersebut. Saya tanyakan kepada salah satu rekan, mengapa semua pertanyaan saya tak terjawab. Ternyata jawaban teman tersebut cukup mengejutkan, bahwa ternyata ibu yang saya lihat di depan wisma bukanlah mucikarinya, melainkan orang baru yang tiba hari itu, sehingga wajar saja kalau dia tidak tahu sama sekali tentang wisma tersebut.
Dari peristiwa itu, saya mendapatkan informasi bahwa ternyata ada jaringan mafia yang menempatkan para PSK di seluruh Indonesia. Kebanyakan PSK baru, berada di kota-kota besar, namun bersama dengan berjalannya waktu, maka para pekerja seks komersil itu bertambah usianya pula, selain itu bermacam penyakit menular seksual mulai menjangkiti mereka. Oleh karena itu, mereka akan dirotasi, dipindahkan ke pulau lain, sehingga ketika baru tiba, si PSK dianggap sebagai “barang baru”.
Padahal praktik tersebut merupakan salah satu jalan penyebaran penyakit, dalam hal ini penyakit-penyakit menular seksual. Ternyata Papua merupakan tujuan terakhir bagi banyak pekerja seks komersil ini, sehingga banyak ditemukan para pekerja yang sudah berumur masih juga bekerja di Papua.
Malam itu akhirnya berjalan lancar dengan berkeliling dan mendengarkan cerita-cerita sedih para PSK yang kami temui. Tidak satupun yang pernah bermimpi untuk menjadi PSK bahkan bekerja sampai usia lanjut, namun keadaan merekalah yang membawa mereka ke tempat itu. Seperti misalnya, tanpa ketrampilan kerja atau pendidikan yang cukup, mereka terpaksa bekerja sebagai PSK, apalagi ketika mereka ditinggalkan oleh suami mereka untuk menikah lagi atau bahkan dijual oleh pasangan mereka. Kebanyakan mereka dituntut untuk menghidupi keluarga di kampung, entah orang tua mereka yang sudah tua termasuk anak-anak mereka yang masih butuh biaya sekolah dan hidup.
Keesokan harinya saya bersama dengan rekan kerja dari Jayapura berkunjung ke salah satu wisma yang kebanyakan PSKnya berasal dari Solo, Jawa Tengah. Ketika kami sedang
bercakap-cakap, datanglah seorang bapak warga Papua yang dengan malu-malu masuk mencari “mbak” yang sedang kami wawancarai. Akhirnya ‘mbak’ tersebut pamit kepada kami, ‘sebentar ya, nanti saya kembali’. Setelah itu masuklah pasangan klien dan penyedia jasa ke dalam kamar, namun tidak lama, kira-kira hanya lima menit mereka sudah keluar dari kamar lagi.
Kemudian percakapan yang terputus tadi berlanjut lagi. Saya mengajukan pertanyaan, ‘mbak lebih memilih orang pendatang atau orang asli?’ Jawabannya kembali membuat saya terkejut, ternyata dia lebih memilih orang asli, meskipun dalam pengamatan saya saat itu, terdapat perbedaan tertentu dalam hal penampilan dan kebersihan di antara orang-orang yang saya temui.
Alasannya cukup menarik, membolak-balikkan logika awam saya. Pertama orang-orang asli sebenarnya berdasarkan adat mereka, mereka
dapat memiliki istri banyak asalkan mereka mempunyai harta, yaitu ternak babi. Namun dengan adanya lokalisasi (yang resmi, meskipun Pemerintah menyatakan prostitusi dilarang), hanya dengan uang Rp 50,000 — Rp 60,000 mereka dapat menikmati ‘mbak-mbak rambut lurus’. Standar kecantikan bagi mereka ternyata adalah lurusnya rambut, bukan dari warna kulit seperti standar di daerah lain di Indonesia. Rasa bangga tersebut kadang muncul akibat selama ini banyak dari mereka merasa rendah diri ketika membandingkan pihak yang berkuasa di sana, yang kebanyakan didatangkan dari pulau lainnya. Sehingga dapat ‘tidur’ dengan ‘orang rambut lurus’ merupakan pencapaian yang menunjukkan mereka berkuasa.
Nah, banyak warga asli yang kadang harus berjalan tiga hari, naik turun gunung hanya untuk menjual hasil kebunnya untuk bisa berkunjung
ke salah satu wisma. Selama perjalanan ini, imajinasi mereka sudah membumbung tinggi, hingga ketika mereka sampai di wisma, melihat si mbak membuka kutang, membuat mereka mencapai klimaks.
Itu salah satu alasan kenapa para PSK lebih menyukai warga asli. Alasan kedua, warga asli dianggap lebih royal, ketika pujian diberikan, maka cenderung semua uang yang mereka miliki akan diberikan kepada si PSK. Kemudian alasan lainnya, warga lokal tidak banyak permintaannya, gaya pria di atas dan wanita di bawah merupakan gaya standard. Sementara para pendatang, biasanya permintaannya bermacam-macam. Ternyata kunjungan ke lapangan mengajarkan saya lebih banyak ilmu baru, dibandingkan dengan sekedar membaca laporan di kantor.
Cerita lainnya yang saya dapatkan misalnya tentang seorang PSK yang ditemukan menderita HIV, yang seharusnya didampingi dan diharapkan dapat berhenti melayani tamu, ternyata justru diusir dari daerah tersebut. Dipaksa pulang naik kapal laut, supaya kembali ke daerahnya. Padahal tidak ada yang tahu, apakah si PSK akan kembali atau hanya berpindah ke daerah lain dan melanjutkan profesinya? Kalaupun dia kembali ke kampung, apakah dia akan tetap tidak melakukan hubungan lagi dengan lelaki lain atau tidak menularkan penyakitnya tersebut ke keluarganya? Tidak ada pendampingan sama sekali, menyedihkan.
Jayapura
Setelah Biak, saya dan rekan kerja kembali ke
kantor kami di Kotaraja, Jayapura. Selama saya berkantor sementara di sini, saya bertemu Ibu Budi yang merupakan seorang istri dokter yang mengabdikan hidupnya sejak dari pedalaman sampai saat itu. Beliaulah yang mengatur jalannya kantor LSM kami di Papua.
Mendengarkan cerita pengalaman beliau selama mendampingi suaminya bekerja di pedalaman sangatlah menarik dan menyentuh sekali. Misalnya pada masa itu belum dikenal sistem kepemilikan, semua barang biasanya adalah milik komunitas. Bahkan sistem jual beli juga belum banyak diberlakukan, sistem barter masih lebih banyak diterapkan.
Satu-satunya hiburan bagi Masyarakat pedalaman Papua waktu itu adalah menonton pesawat yang mendarat, yang mereka sebut ‘patawas’. Satu waktu ibu Budi membawa para
ibu dari pedalaman ke Jayapura untuk pertama kalinya dengan menaiki pesawat. Kebetulan jarak antara kota dan bandara Sentani cukup jauh, sehingga rombongan ibu-ibu dari Wamena ini diangkut naik mobil ke kota dari bandara.
Ketika mobil sudah berjalan cukup jauh, tiba-tiba seorang ibu tidak dapat menahan rasa ingin tahunya, lalu bertanya, ‘mama, kenapa ini patawas tidak terbang-terbang?’ Rupanya mereka menyangka mobil tersebut sama dengan pesawat yang akan terbang membawa mereka semua ke kota.
Di Jayapura, saya ikut serta mengunjungi para PSK di lokalisasi “Turki” (turun kiri), letaknya sedikit di luar kota Jayapura, namun pemandangan lautnya luar biasa. Di tempat ini saya berbincang-bincang dengan para PSK yang kebanyakan berasal dari pulau Jawa, biasanya
dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, mungkin ada dari suku lain, namun pada kunjungan itu saya tidak bertemu dengan mereka.
Di sini selain wisma-wisma yang menampung PSK, ternyata terdapat juga sebuah klinik Kesehatan, sayang sekali dokter dan para stafnya sudah pulang sore itu. Dari perbincangan kami dengan para PSK, kebanyakan pengetahuan mereka didasari dari penjelasan staf klinik tersebut, bahwa perlindungan diri terbaik adalah dengan antibiotik (bukan dengan kondom). Sebenarnya menyedihkan sekali, karena antibiotik yang diberikanpun merupakan yang paling keras, sehingga kemungkinan terjadinya resistensi juga cukup tinggi.
Namun pencegahan dengan kondompun ternyata sudah pernah dijelaskan oleh rekan LSM lokal, namun penolakan dari pelanggan menjadi alasan mereka jarang menggunakan kondom.
Antibiotik yang ditawarkan kepada para PSK ternyata berasal dari bantuan WHO yang diberikan gratis untuk memerangi penyakit TBC. Sayangnya banyak warga penderita TBC yang drop out karena tidak dapat rutin datang ke PUSKESMAS untuk suntikan antibiotik tersebut, sehingga sisanya dijual kepada para PSK dengan harga Rp 10.000 seminggu sekali.
Nabire – Samabusa
Hal ini saya temukan ketika saya mengunjungi daerah Samabusa di Nabire, di mana lokalisasi terletak. Ketika saya sedang mengadakan tanya jawab survei perilaku seksual di salah satu
wisma, tiba-tiba dua orang mantrie pria datang dan memanggil semua PSK yang berada di wisma tersebut.
Satu-persatu para PSK disuntik di depan mata saya.
Setelah kedua mantri tersebut selesai dan menunggu jemputan, sayapun menghampiri mereka dan bertanya, mengapa mereka melakukan hal tersebut yang dapat menimbulkan resistensi antiobiotik? Lagipula, satu jarum suntik digunakan untuk sepuluh orang PSK yang sebenarnya dapat menyebarkan penyakit STD termasuk HIV kepada para PSK tersebut. Sayangnya mereka menolak menjawab, dan hanya melempar pertanyaan saya, tanyakan langsung ke dokter yang bertugas di PUSKESMAS.
Wamena dan Pedalaman
Setelah beberapa pengalaman yang saya alami langsung di lapangan, bagaimana polisi, aparat daerah serta petugas Kesehatan di PUSKESMAS mengambil untung setiap minggunya dari lokalisasi-lokalisasi tersebut. Ketika saya menghadiri seminar nasional, yang juga dihadiri oleh Menteri Kesehatan pada waktu itu, saya mengajukan pertanyaan apakah itu merupakan kebijakan dari Departemen Kesehatan? Namun sang Menteri berkelit dan mengatakan, ah itu hanya ‘Oknum’.
Selain peristiwa tersebut, saya bertemu dengan seorang dokter berkewarganegaraan Amerika yang bertugas di Free Port, bercerita bagaimana HIV ditularkan ke penduduk pedalaman. Pada satu hari beberapa Wanita berjalan kaki berhari-
hari dari pedalaman ke kliniknya untuk memeriksa kesehatan mereka, karena mereka mengalami kesulitan memiliki anak, bahkan dari beberapa mereka sering sakit-sakitan.
Setelah mengadakan pemeriksaan, ditemukan para ibu tersebut ternyata sudah positif HIV bahkan ada yang sudah AIDS. Dari cerita ibu-ibu tersebut, ternyata ditemukan beberapa desa sudah punah, akibat semua penduduknya mengalami penyakit yang tidak diketahui.
Setelah diselidiki lebih jauh, beberapa pria dari suku tersebut diminta untuk mencari kayu gaharu oleh pihak militer (mungkin oknum), dengan bayaran beberapa juta, bahan makanan dan PSK yang diantar dengan helicopter ke pedalaman untuk menemani segerombolan pria pencari gaharu tersebut. Tentu saja para PSK yang diantarkan, sudah berpenyakit, sehingga mereka juga turut serta menularkan penyakit tersebut.
Pada akhirnya para pria pencari gaharu ini kembali ke desa mereka, menularkan ke para istrinya bahkan anak-anaknya. Kejadian tersebut juga saya dapatkan dari daerah lain di Papua, seperti di Merauke, Wamena, Nabire, dll.
Merauke
Sementara waktu saya di Merauke, ketika berkunjung ke lokalisasi ‘belrusak’ (belakang rumah sakit), saya mendapatkan cerita yang lebih miris lagi.
Ketika saya sedang mengadakan wawancara dengan para PSK, tiba-tiba seorang anak berlari masuk sambil menangis untuk melapor kepada ibunya, bahwa bapaknya baru naik ke kapal bersama selingkuhannya dengan membawa motor yang masih dicicil. Sang suami tersebut membujuk sang istri untuk mencicil motor supaya Ia dapat bekerja menjadi pengojek motor, tapi ternyata motor hilang dan sang istri masih harus membayar cicilannya dengan pekerjaannya sebagai PSK.
Di daerah tersebut, saya mendengar cerita bahwa dengan program transmigrasi pada era tahun 70an, banyak PSK jalanan dan para pengemis ditangkap dan dikawinkan di tempat untuk kemudian dikirim ke Papua. Tentu saja pernikahan ini bukanlah berdasarkan saling cinta, namun hanya karena terpaksa.
Akhirnya ketika mereka tiba di Papua dan menghadapi kesulitan, seperti budaya yang berbeda, tanah yang berbeda dengan pulau
Jawa, mereka bukanlah petani, dan banyak alasan lainnya. Misalnya warga Papua waktu itu masih berburu dan mengumpulkan hasil alam, mereka juga tidak mengenal hak milik, oleh karena itu ketika musim panen, hasil panen dari warga transmigran juga diambil oleh warga Papua.
Pada akhirnya, banyak warga transmigran yang gagal menjadi petani dan memutuskan untuk menjual istrinya kembali sebagai PSK, sementara sang suami menjadi mucikarinya. Bahkan beberapa dari mereka yang bahkan tega menjual anak gadisnya yang masih di bawah umur sebagai PSK.
Hal ini diketahui ketika diadakan pengambilan vaginal swab oleh salah seorang rekan yang menemukan anak di bawah usia yang sudah menjadi PSK.
Pelaut Asing di Biak dan Perbatasan
Selain itu masuknya HIV/AIDS juga berasal dari banyaknya pelaut dari Thailand dan banyak negara lainnya untuk mencari ikan di perairan Papua. Ketika di Biak, saya berkunjung ke sebuah restoran untuk makan malam, dan di sana terdapat sekelompok pelaut dari salah satu negara Eropa Timur yang sedang bercengkerama dengan para pelayan Wanita.
Juga banyak warga PNG yang menyeberang untuk berbelanja dan tentu saja mampir ke lokalisasi untuk bersenang-senang, sementara angka HIV cukup tinggi di negara tersebut.
Pelanggan dari Luar Pulau
Bar dan karaoke merupakan tempat prostitusi terselubung juga. Kebanyakan yang bekerja di sana berasal dari Sulawesi Utara atau dari Jawa Barat, karena kebanyakan konsumennya adalah pekerja dari pulau atau suku lainnya di Indonesia.
Ketika kami mengadakan vaginal swab dan tes darah, ternyata ditemukan di tempat inilah paling banyak ditemukan yang positif, meskipun dalam wawancara mereka menyangkal. Mereka mengatakan, mereka hanya berhubungan dengan pacar mereka atau klien mereka, tetapi mereka tidak tahu apakah klien atau pacar mereka hanya berhubungan dengan mereka saja. Kemudian biasanya mereka merasa sungkan untuk pergi ke dokter, karena mereka takut diketahuinya penyakit yang mereka derita.
Meskipun banyak gadis-gadis muda tersebut yang tertipu awalnya akan iklan lowongan kerja di daerah lain, sehingga mereka tertarik untuk melamar. Pada akhirnya mereka terikat hutang dan terpaksa bersedia melayani keinginan tamu agar mereka mendapatkan uang lebih banyak untuk membayar hutang. Tapi pada kenyataannya, mereka tidak pernah bisa membayar hutang, karena bunganya terus bertambah.
Sementara banyak anak-anak asli Papua di bawah umur yang terpaksa menjadi PSK jalanan karena telah mengalami pelecehan seksual atau melakukan seks bebas bersama pacar mereka. Menyedihkan sekali, ketika kami bertemu di jalanan di Jayapura dan juga banyak anak pedalaman yang bersekolah di Wamena tergiur dengan uang dan akhirnya menjadi PSK.
Penutup
Sebenarnya masih banyak lagi cerita yang dapat saya bagikan. Namun tulisan ini sudah cukup panjang.
Selama bertahun-tahun saya bekerja di bidang ini, saya berkeliling dari Biak, Jayapura, Nabire, Sorong, Wamena, Merauke, dan beberapa daerah lainnya. Banyak hal yang menarik saya temukan di lapangan. Namun tak sedikit pula yang miris, terutama karena di balik setiap angka dan lokalisasi, ada cerita sedih yang dialami para wanita pekerja seks komersil. Tulisan ini hanya sebagian kecil dari semua yang saya lihat dan dengar langsung.



Penulis: Silvy Wantania, 10 Agustus 2026 @Melbourne
