Oleh: Silvy Wantania.

Awal menjadi wartawan

Akhir penghujung 1997, selesai sudah kuliah di UK dari Universitas Leeds dengan menggondol gelar Master of Development. Saya kembali ke rumah orang tua, dan pada hari ketiga mengunjungi kantor teman saya di ABC Australia yang terletak di Menteng. 

Ketika kami asyik mengobrol, datang rombongan Worldwide Television News (WTN) dari kantor Hong Kong yang terdiri dari seorang produser, seorang kameramen, dan seorang presenter. Pada saat itu mereka baru kembali dari meliput jatuhnya pesawat Garuda di Medan, dan berencana membuka kantor di Jakarta. Insting kewartawanan mereka mengatakan Indonesia akan ramai.

Saat mereka bertanya kepada teman saya, apakah ada temannya yang dapat berbahasa Inggris, teman itupun menunjuk saya, ini “pengangguran” yang bisa direkrut, yaitu saya.  Akhirnya posisi produser diberikan kepada saya, ditemani seorang kameramen berkewarganegaraan Australia, Billy Cooper.

Tugas pertama kami adalah meliput kebakaran hutan di Lampung yang dibantu oleh regu pemadam kebakaran Australia. Lalu dilanjutkan dengan liputan jatuhnya pesawat Silk Air di Palembang, serta demonstrasi akibat krisis ekonomi yang terjadi setiap hari di Jakarta.  Pada penugasan pertama untuk meliput kebakaran hutan di Lampung, saya belajar, bahwa sebagai news agency, peliputan kami hanya bisa terjual apabila footage kami dapat dikirim melalui satelit paling awal. Pada saat itu, news agency tidak sebanyak sekarang, sedunia waktu itu, hanya ada AP (Associated Press), WTN (Worldwide Television News) dan Reuters. Kamilah yang menyediakan footage untuk siaran berita di seluruh dunia yang disiarkan oleh TV-TV station.

Peristiwa di Medan

Memasuki tahun 1998, keadaan dan situasi di Indonesia semakin memanas, dan demonstrasi tidak hanya dilakukan oleh para ibu, tetapi mahasiswa mulai melibatkan diri dalam kancah politik Indonesia. Nilai tukar dolar mulai melonjak; pada saat itu saya termasuk yang diuntungkan karena dibayar dalam dolar AS.

Keadaan yang semakin memanas memicu berbondong-bondong wartawan asing memasuki Indonesia. Pada saat itu, kantor kami yang tadinya hanya diisi dua orang akhirnya menjadi penuh, karena seorang produser dari kantor India (orang Amerika) dikirim, serta tambahan dua kameramen dari Hong Kong, warga negara Australia dan Inggris.

Demo mahasiswa semakin marak terjadi hampir setiap hari, yang mengakibatkan dikirimnya saya beserta seorang kameramen Australia yang bukan partner kerja saya ke Surabaya dan Yogya untuk meliput. Tapi kami selalu datang terlambat setelah demo besar terjadi, sehingga akhirnya kami dikirim ke Medan karena sehari sebelumnya terjadi pemukulan demonstran dan wartawan lokal oleh aparat.

Begitu sampai dari bandara, kami langsung mengunjungi beberapa mahasiswa yang dirawat di rumah sakit akibat pemukulan di hari sebelumnya. Sebenarnya sebelum berangkat saya sudah meminta produser untuk mengajukan visa bagi para kameramen yang baru datang. Namun, karena keadaan sudah mendesak, permintaan saya diabaikan, sehingga kameramen yang menyertai saya saat itu hanya menggunakan visa wisata saja. Saya lupa nama kameramen itu, namun dia berkebangsaan Australia.

Dalam kunjungan ke rumah sakit tersebut, beberapa mahasiswa menginformasikan akan ada demo besar-besaran yang merupakan aksi gabungan dari beberapa kampus di daerah Pancing, Medan.

Paginya kami berangkat ke kampus IKIP di daerah Pancing untuk meliput demo mahasiswa tersebut. Mahasiswa menyambut kami dengan suka cita, bahkan berjanji untuk menjaga kami.

Namun, akibat kameramen yang belum pernah meliput kerusuhan, paling ramai hanya meliput olimpiade, ia meminta untuk meliput dari pihak militer dan polisi, yang menurut saya merupakan permintaan tidak masuk akal. Mana ada yang mau diliput saat melakukan kekerasan terhadap para demonstran.  

Meskipun sudah saya larang, ia dengan percaya diri berlari ke sana kemari meliput situasi saat itu.  Untunglah mahasiswa berinisiatif melindungi kami dan selalu menarik kameramen tersebut kalau sudah masuk daerah bahaya.

Pihak aparat melemparkan gas air mata untuk membubarkan mahasiswa yang berada di dalam kampus, namun ternyata mahasiswa lebih siap, dengan ember air untuk mencuci muka dan juga odol yang dioleskan di bawah mata untuk mengurangi rasa pedas dari gas tersebut.

Mahasiswa pun tak mau kalah dengan melemparkan bom Molotov buatan sendiri. Konflik saat itu cukup seru, tetapi terasa monoton. Mahasiswi pun tidak kalah aksinya; mereka berteriak-teriak dan memaki aparat dari balik pagar kampus.

Setelah mendapatkan banyak gambar dan video, saya memutuskan untuk kembali ke hotel karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 siang.

Jalanan sudah ditutup oleh aparat, akibatnya kami harus melewati perkampungan dan perumahan penduduk untuk menuju kembali ke mobil sewaan kami. Untunglah beberapa mahasiswa membantu kami dengan mendorong kami menaiki pagar setinggi dua meter. Mereka juga menjadi penunjuk jalan keluar dari daerah tersebut.

Pada saat itu, seperti demo-demo sebelumnya di Jakarta, biasanya pada sore hari demonstran akan membubarkan diri ketika malam tiba. Setelah tiba kembali di hotel, saya memberitahu sopir bahwa kami akan kembali ke daerah pancing malam nanti sekitar jam 11 malam untuk melihat perkembangan.  Namun sebelum jam keberangkatan, sopir sewaan kami menelepon dan mengabarkan, bahwa jam malam telah diterapkan. Hal itu karena terjadi kerusuhan di pos polisi Pancing.

Keesokan harinya, kami kembali ke kampus IKIP di daerah Pancing. Suasana sudah berubah; semua mahasiswa menolak berbicara dengan kami, dan keadaan kacau balau meskipun demo telah berakhir. Akhirnya, seorang dosen pria mendekati kami dan menjelaskan kejadian malam sebelumnya.

Menurutnya, demo berlangsung hingga pukul 9 malam, saat kantin sudah tutup dan tidak ada makanan tersisa bagi mahasiswa yang terjebak di dalam kampus IKIP tersebut. Sementara itu, kampus sudah dikepung aparat, entah dari kepolisian atau TNI. Pada akhirnya, rektor turun tangan dan bernegosiasi dengan pihak aparat untuk membolehkan mahasiswa pulang ke kediaman mereka.

Pihak aparat mengizinkan, bahkan memaksa semua mahasiswa diantarkan dengan truk polisi dan bis kampus. Mereka menuntut kampus dikosongkan, namun beberapa mahasiswa menolak untuk naik ke truk atau bis, sehingga dikejar oleh aparat hingga Gedung rektorat. Dosen tersebut menunjukkan bercak-bercak darah yang tercecer di dinding Gedung rektorat, dari lantai bawah hingga lantai atas. Bercak itu entah akibat pukulan atau tembakan yang dilepaskan aparat terhadap mahasiswa yang melarikan diri tersebut.

Nasib para mahasiswa yang dipaksa naik truk maupun bis juga tidak kalah mengenaskan, karena mereka dipukuli dulu sebelum mereka dilempar ke atas truk atau ke dalam bis.  Sementara para mahasiswi sengaja dipisahkan dan dipaksa untuk berjalan beriringan ke jalan raya Pancing. Di kanan kiri mereka sudah berjajar para aparat yang memukul, bahkan terjadi beberapa tindak pelecehan seksual.  Akibatnya banyak mahasiswa yang tiba di rumah atau di tempat kost mereka hanya mengenakan pakaian dalam saja atau hampir telanjang dengan kondisi babak belur.

Ketika kami keluar dari Gedung rektorat, dua orang mahasiswi yang masih dengan perban di kepala dan wajah yang babak belur mendekati kami, karena mereka tahu kami wartawan.  Mereka meminta kami untuk mendengarkan cerita mereka, namun tanpa menyorot wajah mereka.  Sehingga dalam video klip kami hanya terlihat tangan saya menggenggam kedua tangan gadis tersebut dan terdengar suara mereka bercerita tentang penyiksaan yang terjadi tadi malam.

Rupanya akibat banyaknya mahasiswa yang mengalami pelecehan dan kekerasan, masyarakat di sekitar daerah pancing tersulut emosinya, sehingga mereka mengadakan pengrusakkan kantor polisi Pancing.  Oleh karena itu jam malam diberlakukan untuk mencegah kerusuhan meluas di kota Medan.

Mahasiswa yang hari sebelumnya ramah terhadap kami, hari itu, semua menghindar, ternyata menurut dosen tersebut pada malam itu banyak mata-mata atau intel aparat ditemukan di antara para demonstran, sehingga mahasiswa mulai curiga kepada orang yang tidak dikenal.

Akhirnya kami mendapat informasi, bahwa siang nanti mahasiswa akan melakukan aksi damai ke DPRD Medan untuk melaporkan kejadian semalam.  Kami menuju pusat kota Medan, dan mobil kami diparkir di daerah perumahan di belakang jalan raya (saya lupa namanya).  Saya dan kameramen berjalan melalui gang menuju ke jalan raya.  Setibanya di jalan, kelompok mahasiswa yang berjalan dalam kelompok yang dibatasi tali rafia (mencegah penyusup) menuju DPRD berlalu, dan kameramen sangat bersemangat dan dia berpikir aman untuk meliput dengan mengikuti rombongan mahasiswa seperti kemarin. 

Saya tidak sempat melarang, tiba-tiba saja dia sudah menghilang.

Saat itulah saya mulai sadar, saya tidak sendirian. seorang intel mengikuti saya. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas.

Tiba-tiba, seorang bapak pemilik warung makan memanggil saya, suaranya pelan tapi mendesak. Saya sebenarnya enggan. Perut saya masih kenyang dari sarapan di hotel, dan insting saya mengatakan untuk tetap bergerak, tidak diam di satu tempat. Namun ada sesuatu dalam nada suaranya, setengah memohon, setengah memperingatkan, yang membuat saya akhirnya masuk.

Saya duduk di meja yang menghadap ke jalan raya, posisi yang memungkinkan saya melihat segalanya… sekaligus membuat saya merasa terekspos. Tak lama kemudian, benar saja, intel yang sejak tadi membuntuti saya ikut masuk dan duduk di meja lain. Jaraknya tidak jauh. Terlalu dekat untuk diabaikan.

Pemilik warung itu mendekat, lalu berbisik cepat, “Tidak usah makan, Bu. Duduk saja di dalam. Ibu diikuti intel.”

Saya menoleh sedikit, lalu menjawab pelan, “Terima kasih, Pak. Saya tahu.”

Namun mengetahui dan merasakan adalah dua hal yang berbeda. Ada tekanan halus yang menekan dada saya, seolah waktu berjalan lebih lambat, tetapi bahaya justru semakin mendekat.

Dari tempat duduk, saya mengamati jalan. Rombongan mahasiswa masih berjalan, membawa spanduk dan suara yang awalnya terdengar damai. Tapi suasana mulai berubah, perlahan, hampir tak terasa

Lalu, tiba-tiba.

Setelah rombongan mahasiswa berlalu, suara mesin sepeda motor  memecah ritme kerumunan. Beberapa motor melaju dari belakang, masing-masing ditunggangi dua orang berpakaian preman. Namun potongan rambut mereka, gestur tubuh mereka, terlalu khas untuk disamarkan. aparat.

Dalam hitungan detik, orang-orang yang duduk di belakang pengemudi mengangkat tangan mereka, dan kemudian…

Letusan.

Tembakan dilepaskan ke udara.

Dan serempak massa keluar dari gang-gang yang ada di sekitar daerah itu. Nampaknya seperti sudah dipersiapkan, entah ini hanya asumsi saya saja.

Kerusuhan pecah begitu cepat hingga sulit dipercaya bahwa beberapa detik sebelumnya semuanya masih tampak terkendali. Massa mulai menjarah, merusak toko-toko milik keturunan Tionghoa di sepanjang jalan. Saya melihat wajah-wajah yang tadi hanya penuh semangat berubah menjadi liar, tak terkendali.

Dan di tengah semua itu, hati saya terhantam perasaan yang lebih berat dari takut, marah, sedih, dan tidak berdaya menyatu menjadi satu. Ini bukan sekadar kerusuhan. Ini seperti sesuatu yang… dibiarkan terjadi.

Saya tahu saya harus pergi. Saya melarikan diri.

Dengan napas yang terasa berat dan langkah yang berusaha tetap stabil, saya keluar dari warung itu, menahan diri untuk tidak berlari terlalu mencolok. Namun begitu saya cukup jauh dari pandangan, saya mempercepat langkah, hampir berlari, menyusuri jalan yang mulai dipenuhi kepanikan.

Setiap suara keras membuat jantung saya melonjak. Setiap bayangan terasa mencurigakan.

Saya terus berjalan menuju mobil sewaan, dengan perasaan yang kini berubah, bukan lagi sekadar khawatir… tetapi ketegangan yang mencekam, seolah sesuatu yang lebih buruk masih menunggu di depan. Saya sampai kembali ke mobil sewaan.  Sopir mobil masih berbincang-bincang dengan pemilik rumah di mana mobil kami di parkir.  Saya bergabung dengan mereka, sementara menunggu kameramen kami kembali. Di mana kameramen saya?

Setelah hampir sore, kami memutuskan untuk kembali ke hotel tanpa kameramen kami. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di muka rumah dan turunlah kameramen tersebut. Saya cukup terkejut, karena dia menumpang motor seorang intel dengan potongan rambut cepaknya, badan kekar dan di pinggangnya terpampang HT.

Bergegas kami memasuki mobil dan meninggalkan tempat tersebut, namun kami sadar, mobil kami diikuti oleh motor intel tadi. Kameramen bercerita, dia mengikuti rombongan mahasiswa, namun tiba-tiba keadaan menjadi kacau, karena massa keluar dari gang-gang dan mulai menjarah.  Pada saat itu, seorang anak remaja (sekitar 15 tahunan) keturunan Tionghoa melewati jalan tersebut naik motornya, dan massa tiba-tiba menyerang anak tersebut dengan batu-batu besar.  Dari potongan video saya melihat bagaimana massa memukuli anak remaja itu dan dengan batu besar mereka berusaha menghancurkan sepeda motor. Kameramen tanpa pikir panjang berusaha melindungi anak tersebut, namun nampaknya massa sudah tidak terkendali lagi, sehingga diapun menerima beberapa bogem mentah dari para perusuh.  Tiba-tiba muncullah intel tadi menyelamatkan si kameramen dan kami tidak tahu bagaimana Nasib anak remaja tersebut. 

Setelah bercerita, saya tahu potongan video tersebut merupakan hal terlarang yang dapat membawa kita ke dalam masalah yang lebih besar lagi.  Oleh karena itu, saya mengeluarkan kaset rekaman dari kamera dan memasukkan kaset baru. Sementara kaset tersebut saya sembunyikan di bawah karpet tempat duduk saya. Sepanjang jalan kameramen hanya merekam jalanan yang kami lalui saja. 

Sebenarnya saat itu, saya memerintahkan sopir untuk membawa kami ke hotel untuk mengambil barang-barang dan langsung ke bandara, namun si sopir memaksa kami untuk mampir ke rumahnya dulu, karena dia mempunyai paman pejabat tinggi AD di Jakarta yang akan dia hubungi untuk melindungi kami.  Saya tidak mau melibatkan dia, namun permintaan saya tidak didengar dan dia membelokkan mobilnya masuk ke pelataran rumahnya. Dia loncat keluar, sementara saya dan kameramen terbengong-bengong di dalam mobil.

Di luar pagar yang tidak tertutup, saya bisa mendengar suara HT si intel yang sedang menunggu kami.  Saya memutuskan untuk memanggil sopir kami, namun kameramen menawarkan dirinya untuk menjemput sopir kami.  Ketika dia keluar mobil, seketika si intel menerkamnya, saya sempat panik.  Dan akhirnya apa yang saya takutkan terjadi, Ketika si intel meminta kami menunjukkan kartu identitas kami, saya sebenarnya tidak khawatir karena kartu akreditasi wartawan saya cukup, dikeluarkan oleh kementrian luar negeri, sedangkan sang kameramen hanya mempunyai visa wisata. Nah, dari kasus visa inilah akhirnya kami digelandang ke kantor polisi Medan.

Setibanya di sana, saya yang pertama diinterogasi oleh kepala intelnya.  Dia mengetahui saya lulusan luar negeri, dan dia menuduh saya menjual Indonesia ke pihak asing.  Saya tidak gentar sedikitpun, saya katakan saya hanya ditugasi untuk meliput kota Medan atas perintah kantor cabang di Hong Kong.  Kebetulan di kartu akreditasi saya, jabatan saya hanya sekedar interpreter (karena kantor tidak mau membayar saya dengan gaji produser yang tentunya lebih tinggi), jadi saya katakan tidak tahu apapun. Namun satu hal yang paling mengecewakan saya, ternyata kantor pusat ingin mengorbankan saya demi menyelamatkan kameramen Australia tersebut. Sehingga mereka mengirimkan fax yang menyatakan kameramen saya tidak tahu sedikitpun tentang adanya demonstrasi, namun sayalah yang bertanggung jawab karena saya produsernya.  Wah, habis saya dimaki-maki oleh si kepala intel, padahal saya hanya mengikuti perintah kantor cabang Hong Kong.

Kebetulan seorang rekan wartawan BBC menghubungi saya dan berusaha membantu membebaskan kami.  Dia mengatakan kenal dengan orang-orang di LBH Medan yang bisa membantu saya.  Namun saya tolak dan minta dia untuk menghubungi kedutaan Australia, karena yang bermasalah sebenarnya adalah si kameramen warga Australia ini, dengan meliput menggunakan visa wisata.

Untunglah kami ditahan hanya di kantor tempat interogasi berlangsung, tidak dimasukkan ke dalam sel tahanan.  Saya dapat mendengar suara nyanyian gereja, “Yesus tolong kami” dari lantai bawah, di mana para mahasiswa dan mahasiswi di tahan. Pada hari kedua, Ketika si kameramen dan beberapa orang polisi kembali ke hotel untuk mengambil pasportnya, saya ditinggal sendiri di ruang interogasi dan kebetulan saya duduk di belakang pintu beserta kamera besar itu.  Tiba-tiba masuklah dua mahasiswa yang sudah babak belur, sehingga wajah mereka sulit dikenali lagi, dengan hanya memakai celana dalam dan berjalan jongkok.

Ketika mereka masuk, mereka tidak melihat saya yang berada di belakang pintu dan akhirnya mereka duduk di lantai di depan meja interogasi.  Kemudian masuklah seorang polisi bertampang sangar dan bergaya penguasa membentak-bentak mahasiswa tersebut.  Kedua anak tersebut akhirnya melihat saya dengan tatapan meminta tolong.  Polisi ini masuk belakangan dan akhirnya diapun melihat saya, dan membentak kedua anak ini untuk keluar lagi pindah ke ruangan yang lain.

Pada hari ketiga, kami berdua di bawa ke TVRI Medan untuk diperiksa video yang ada pada kami. Setelah diputar, ternyata hanyalah pemandangan jalanan saja yang ada, sedangkan pemandangan kerusuhan tidak ada, Sehingga puji Tuhan kami dibebaskan namun harus segera terbang kembali ke Jakarta, karena saat itu kedutaan Australia sudah ikut campur dalam masalah ini.

Akhirnya kami bertemu lagi dengan sopir dan mobil sewaan kami dan langsung diantar ke bandara dan dia menyerahkan video dengan gambar demonstrasi pertama dan kedua, wawancara serta kerusuhan serta upaya pembunuhan yang dilakukan massa. Saat itu footage tersebut dibeli oleh CNN, sehingga hanya CNN lah yang berhak menyiarkan kejadian tersebut.

Masuk daftar Black List dari Departemen Luar Negeri

Sekembalinya ke Jakarta, saat itu saya masih tinggal di kost di Menteng tidak jauh dari kantor saya dari Deutsch Bank.  Sebenarnya dalam perjalanan dari bandara di Tangerang ke Jakarta, saya dikontak oleh kantor pusat WTN dari London dan saya mengajukan pengunduran diri.  Mereka menolak dan membujuk saya untuk tetap bekerja sebagai produser di Indonesia.  Saya merasa terancam karena waktu interogasi, mereka sudah melarang saya untuk turun lagi ke jalan untuk meliput kerusuhan. Akhirnya kantor London membujuk saya untuk memberikan apapun permintaan saya.  Saya meminta selama seminggu tinggal di hotel Mandarin di seberang kantor saya.  Mereka menyetujui, namun akhirnya saya hanya dapat tinggal selama 3 hari dan diperintahkan kembali ke kost oleh produser dari India.

Hari pertama saya kembali, pagi ketika akan berangkat ke kantor di depan kost ada beberapa gerobak penjual makanan, dan seorang intel yang duduk menghadap kost saya berkata kepada temannya dengan suara keras, ini nih wartawan yang ditangkap di Medan. Wah, ternyata ancaman mereka tidak main-main, saya sekarang diikuti ke mana-mana.  Hitung-hitung ada bodyguard gratis.

Ketika keadaan di Jakarta semakin memanas, beberapa kali saya dipaksa untuk turun meliput dengan kameramen, namun saya terus menolak, sehingga saya merekrut seorang mahasiswa Aceh (saya lupa namanya) untuk menemani kameramen dalam liputan di jalan. Saya bekerja di kantor saja. Ketika demonstrasi besar-besaran di depan kampus Trisakti terjadi, saya hanya menyaksikan kejadian kejar-kejaran dan penembakan dari footage yang dibawa pulang oleh para kameramen yang meliput demo.

Pada malam sesudah penembakan, saya akhirnya memberanikan diri untuk meliput kamar mayat di rumah sakit Atmajaya di mana disemayamkan para korban penembakan. Keesokan harinya, saya diperintahkan lagi untuk mengantar kaset baru dan baterai ke cameramen partner kerja saya yang sedang meliput upacara pemakaman para korban penembakan Trisakti. Demi keamanan saya naik taksi Silver Bird dari hotel Mandarin ke mall Taman Anggrek di Seberang Trisakti di mana kami janjian untuk bertemu. 

Ternyata sudah banyak wartawan lokal berkumpul di pintu masuk mall dan melihat bagaimana truk yang berisi preman yang membawa jerigen minyak dan linggis diturunkan. Setelah bertemu dengan kameramen dan menyerahkan semua barang yang diperlukannya, saya segera kembali ke kantor.  Sebenarnya masih ingin melihat apa yang sedang terjadi, namun teman-teman wartawan lokal bilang, muka saya mirip dengan wajah keturunan Tionghoa, sehingga saya harus cepat-cepat menyingkir. Ketika saya kembali ke taksi Silver bird, sopir menolak membawa saya, karena dia takut mobilnya menjadi sasaran amuk massa. 

Saya ditinggal di pinggir jalan kebingungan, untunglah ada anak muda tukang ojek yang menghampiri saya dan menyelamatkan saya.  Dia mengantar saya masuk gang-gang kecil, namun beberapa kali akan pindah ke jalan raya, kami menyaksikan bagaimana tantara dengan motor-motor trailnya lewat di jalan Gatot Subroto, namun herannya mereka tidak mengamankan pihak perusuh, bahkan nampaknya seperti mengawal mereka.

Untunglah saya tiba di kantor dengan selamat. Waktu kerusuhan berlangsung selama beberapa hari, Jakarta dan sekitarnya dipenuhi asap hitam membumbung ke langit.  Di mana-mana keadaan kacau. Suatu sore, ada teman dari kantor sebelah mengumumkan bahwa Prabowo dan Syafei akan lewat, kami segera naik ke rooftop untuk melihat rombongan panser di mana Prabowo terlihat menuju ke istana untuk mendesak Habibie, presiden sementara untuk memberikan kekuasaan untuk mengamankan keadaan dan situasi.  Saya baru tahu dari kutipan buku biografi Habibie, pada saat itu Habibie berani menolak, dengan dukungan Wiranto.  Mungkin kalau diberikan, keadaan pada tahun 1965 akan terulang kembali, di mana mantan mertuanya mendapat surat Sebelas Maret yang hilang.

Dalam satu footage yang dibawa, terlihat sebuah pertokoan kecil yang dipaksa dibuka dengan linggis oleh oknum yang membawa linggis dan jerigen bensin.  Setelah rolling door terbuka, dia mengajak warga setempat yang menonton kerusuhan untuk masuk dan menjarah.  Banyak warga sekitar yang masuk, namun tidak lama kemudian dengan jerigennya, si oknum tersebut menyiramkan bensin ke Gedung pertokoan tersebut, hingga api membesar.  Banyak orang terjebak, bahkan beberapa orang terlihat mengikat kain putih untuk meloncat dari lantai atas untuk menghindari api.

Setelah kerusuhan mereda, saya diperintahkan untuk meliput ratusan atau mungkin ribuan mayat di kamar mayat RSCM.  Namun setibanya di sana, dari jarak beberapa ratus meterpun bau busuk sudah tercium.  Kami dibekali masker dari kantor, tapi Ketika saya pakai, beberapa mahasiswa kedokteran menertawakan kami, akhirnya saya buka masker tersebut.  Lama-lama terbiasa juga. Lapangan parkir RSCM dipenuhi barisan mayat-mayat yang hanya digeletakkan saja di asphalt. Miris dan sedih sekali melihat istri, suami, dan orang tua yang mencari pasangan maupun keluarganya yang hilang terbakar, khususnya korban dari Mall Ramayana Klender.  Dari yang hangus, sampai yang masih terlihat ciri-cirinya diletakkan di lantai dan tanah saja. Banyak orang mencoba mencari sisa-sisa pakaian yang masih dikenali untuk identifikasi keluarga mereka.

Pada akhirnya setelah keadaan kembali pulih, saya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai wartawan, bahkan nama saya sebenarnya sudah masuk daftar black list di KemLu (menurut teman saya yang bekerja di KemLu).  

Pengalaman ini mengubah cara saya memandang pekerjaan ini. Saya tidak lagi merasa aman berada di situasi seperti itu, dan mulai sadar bahwa di lapangan, netralitas sering kali hanya teori. Sejak saat itu saya tahu saya tidak ingin terus berada di tengah kondisi seperti itu.

Akhirnya saya bekerja di LSM yang bergerak di bidang pencegahan HIV/AIDS di Papua Barat, walaupun beberapa kali bekerja sebagai freelancer. Misalnya bekerja sebagai produser lokal bagi MSNBC yang meliput organisasi-organisasi Islam di Indonesia setelah peristiwa September 11. 


Penulis: Silvy Wantania, 3rd May 2026 @Melbourne

Editor: Mario Ngopidulu