Oleh: Bela Kusumah Kasim.



Negeriku
Dari jauh warna mu nan biru,
menggunung tinggi menembus awan
Dari dekat, warna mu nan hijau
seperti menggoda hati muda-mudi yang lagi berkencan
Makin mendalam masuk ke dalam hutan,
kita pun makin terpukau
dengan aneka ragam fauna dan flora
Hutan tropis,
hutan nan basah,
nan rimbun,
nan indah
Mempersonakan!
Dari sejak dahulu kala,
nenek-moyang kita benaung, berlindung,
dan bersenandung di dalam hutan
Bercanda dengan alam,
bergumul dengan daun-daun kering yang berlumpur,
dan berburu dengan naluri,
bersenyawa dengan udara berembun
Hutan tropis berlembah dan berbukit-bukit,
dengan sungai-sungai besar dan kecil,
meliuk-liuk menembus batu, karang, tebing,
dan pepohonan besar yang tumbuh kukuh
Mata airnya jernih membasahi akar belukar
dan batang pohon-pohon yang saling melilit,
dilumuti fungi sampai ke pucuk yang paling tinggi
Hutan tropis,
hutan nan basah,
nan rimbun,
nan indah
Menakjubkan!
(Suara mesin gergaji, angin, dan pepohonan yang rubuh)
Oi manusia-manusia rimba,
manusia masyarakat adat habitat hutan tropis
Hidupmu tergantung kekayaan
yang berlimpah di dalam hutan
Hidupmu berburu satwa
dengan segala vegetasi yang bisa dikunyah dan dicerna
Manusia rimba bersenyawa dengan semua habitatnya,
berburu untuk memenuhi kebutuhan secukupnya
Mereka bukan untuk memilikinya
dan meraupnya dengan tamak,
seperti orang-orang kota
Manusia rimba adalah penjaga alam,
bukan penjagal atau penjual
Hutan tropis di negeriku yang hijau
Angin menembus punggung-Mu di pagi hari,
membisikan suara renyah
bagai anak manja yang cerah
Bersahutan dengan suara-suara tonggeret,
burung-burung liar
Naluri mereka menyatu
dengan daun-daun yang berkencan
dengan gemercik air sungai
yang menembus ranting-ranting dan batang-batang kering
Di senja hari,
suasana hutan sering diramaikan
dengan gonggongan berbagai binatang
dan kicauan burung-burung
yang siap tenggelam di kegelapan malam
(Suara musik… suara mesin pemotong pohon… rrrrroaorr… rooororoar…)
Mesin-mesin gergaji pemotong pohon mendengung-dengung,
menenggelamkan suara tangisan manusia rimba
Suara pohon-pohon besar yang tumbang
membelah hutan,
melenyapkan suara keharuan satwa-satwa
yang sekarat karena hidup tanpa langit
Bunyi mesin bolduzer mengelegar,
menyapu deru angin,
merecoki keheningan lembah
Pohon-pohon muda yang baru tumbuh
tergilas roda-roda baja
Satu persatu pohon-pohon
yang sudah ratusan tahun
tumbang saling melintang
Semuanya diratakan,
satwanya dimusnahkan,
floranya dikomersialkan,
dan tanahnya dikapling-kaplingkan
Manusia-manusia rimba dipaksa pindah
dan dipisahkan dari habitat
yang sudah melekat ribuan tahun
Demi kemajuan peradaban,
demi lajunya roda perekonomian global,
demi kepentingan food estate nasional
Dan demi kelanjutan hidup
orang-orang kota
yang konon peduli lingkungan hidup
Hutan tropis,
hutan di negeriku
yang kini resah dan gelisah
Sangat mengharukan
Mengharukan!



Melbourne – 26 Oktober 2018



Catatan Bela Kusumah:
Sajak ini aku tulis di bulan Oktober tahun 2018
Tentang hutan,
tentang kerinduanku akan hutan tropis
Kata-kata dan kalimatnya
memang aku kaitkan dengan ingatanku
waktu aku SMP dan SMA
Waktu dadaku sedang bergelora
mendaki gunung
dan menjelajah hutan di Jawa Barat
Lalu…
gelora dadaku kembali meradang
seperti ada segunung kemarahan
dan sebungkah kekecewaan
serta sembelit kesedihan
Bencana alam, banjir, dan tanah longsor
yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat
akhir tahun 2025
Membuat aku harus berhibernasi
di depan layar komputer MacBook
Merangkai kalimat-kalimat
yang harus aku keluarkan
meskipun terasa sembelit
sebelum ingatanku disapu ombak waktu
yang tidak kenal kompromi