Di ujung bulan Mei, kami meliput acara Konser Bersama Rakyat, sebuah upaya masyarakat Indonesia di Melbourne untuk terus #MenolakLupa tragedi Mei 1998.
Berlokasi di suburb yang tenang dekat pusat kota Melbourne, cerah warna kuning memerah menghiasi pohon yang mulai berguguran. Suasana terasa damai dan nyaris hening, seakan dunia sedang istirahat.
Tapi tulisan “Mei 98” di poster, menyentik benak saya, dan begitu saya melangkah masuk ke venue acara, mendadak suara-suara mengerikan terdengar: dentuman bom molotov, letusan senjata otomatis, teriakan kesakitan, jeritan panik, lolongan sirene, dan kepedihan yang mengiris. Semua itu hidup dalam benak saya, seperti hantu-hantu yang mendesak keluar dari masa lalu. Bulu kuduk saya berdiri.
Namun sapaan hangat mengoyak halunisasi itu, dan senyum ramah dari panitia di pintu masuk mengembalikan saya ke realitas.
Saya menuliskan nama di buku tamu, lalu melangkah masuk ke ruangan di mana foto-foto dokumentasi, potongan koran, majalah, dan memorabilia membawa saya ke tahun-tahun penuh gejolak. Dari tiap gambar, jeritan-jeritan masa lalu seakan merembes keluar, membisikkan luka yang belum sembuh.



Saya mengeluarkan kamera dari tas bersiap membuat dokumentasi video, yang bisa digunakan sebagai alat pengingat, terutama saat pemerintah Indonesia yang baru, yang berperingai seperti rezim Orde Baru, mulai berusaha menulis ulang sejarah.
Mbak Pipin dari komunitas Melbourne Bergerak, salah satu penyelenggara acara ini, menyampaikan bahwa peringatan ini hasil kerja lintas generasi. Pesertanya datang dari berbagai usia dan latar belakang. “Tujuan acara ini adalah satu, mengingat kembali,” katanya, “karena salah satu hal yang paling penting adalah menolak lupa.”
Selama ini, komunitas Melbourne Bergerak dikenal lewat berbagai diskusi dan aksi-aksi publik seperti Aksi Kamisan. Namun kali ini, mereka mencoba bentuk lain yang tak kalah kuat: kesenian. Lagu-lagu perjuangan serupa dengan Safii Kemamang ditampilkan, sementara puisi yang menapak jejak seperti Widji Thukul pun. Maka konser ini hadir segar, menjadi bagian dari cara memperingati Mei 1998 secara kolektif dan emosional.
Tampak anak-anak kecil duduk di meja, mewarnai gambar-gambar bertema “Menolak Lupa”. Di sudut ruangan, alat musik seperti grand piano, gitar, dan peralatan lain siap menghidupkan ingatan.
Melangkah ke ruangan berikutnya, para pengunjung menikmati sajian gorengan sambil menyeruput kopi Kapal Api. Suasana hangat dan akrab.
Acara pun dimulai. Setelah sambutan pembuka, penonton disuguhkan monolog, tarian ekspresif dengan iringan piano yang menggetarkan jiwa, dan puisi yang menyayat hati.

Semua yang hadir, tua, muda, anak-anak, dari yang tampil rapi hingga yang datang seadanya, duduk khidmat, mendengarkan, sesekali menggeleng, terkejut, atau terdiam sedih.
Saya jadi teringat seorang adik kelas SMA yang kuliah di Trisakti, yang hingga kini tak pernah mau berbicara tentang kejadian Mei 1998, boro-boro diajak datang ke acara ini. Dua puluh tujuh tahun lalu, dia terperangkap di balik tembok kampus, memeluk tubuh temannya yang berdarah, mencoba menenangkan mahasiswa yang panik karena peluru telah menggantikan dialog. Jakarta terbakar. Mereka menangis di jalanan, bukan karena takut mati, tapi karena sedang lahir kembali sebagai rakyat yang tak ingin lagi ditindas.
Kini, ia tinggal jauh dari Jakarta, di kota Melbourne yang damai, tempat yang cukup nyaman untuk lupa. Tapi mimpi buruk itu tetap hidup di jiwanya. Seperti suasana menyeramkan dalam puisi yang dibacakan malam itu.
Bolehkah Kita Bernyanyi tentang Luka?
Tentu boleh. Bahkan harus. Luka yang dipendam akan membusuk. Tapi luka yang dinyanyikan bisa menjadi pengingat kolektif, menyatukan kita.

Band Aneka Ria membawakan seruan “Bongkar” karya Iwan Fals dari grup Swami. Lagu itu mengguncang sukma, membakar semangat perlawanan dan perubahan. Liriknya menyerukan pembongkaran sistem yang menindas, sejalan dengan semangat Gerakan Reformasi 98 yang ingin mengakhiri Orde Baru dan menuntut keadilan atas pelanggaran HAM.

Namun 27 tahun sejak Reformasi bergulir, semangat perubahan yang digemakan lagu itu masih bertarung dengan realitas. Sejumlah pencapaian memang telah diraih, tetapi jalan menuju tujuan utama Reformasi masih penuh tantangan. Mari kita tengok satu per satu:
1. Kita kini memiliki Sistem Politik yang Demokratis, pemilu langsung untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden sejak 2004, muncul partai-partai baru, dan representasi politik yang lebih beragam.
Namun, tantangan struktural tetap membayangi: tingkat polarisasi politik yang tinggi, maraknya politik uang, serta dominasi oligarki dalam proses politik dan ekonomi masih menjadi persoalan serius.
2. Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan penuntasan sejumlah kasus besar memberi harapan.
Namun, pelemahan KPK lewat revisi undang-undang dan intervensi politik menggerus kepercayaan publik, sementara korupsi tetap merajalela, terutama di tingkat daerah dan sektor-sektor strategis.
3. Penegakan Supremasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) dengan pembentukan Komnas HAM dan lembaga perlindungan saksi/korban menunjukkan kemajuan, disertai peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya HAM.
Tapi luka masa lalu belum tertangani sepenuhnya: pelanggaran HAM berat belum tuntas diadili, dan para pelakunya masih bebas dari pertanggungjawaban hukum.
4. Dalam upaya Reformasi Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, meningkatnya kelas menengah, serta pelaksanaan program-program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Namun, ketimpangan ekonomi antarwilayah masih mencolok, dan ketergantungan pada sektor-sektor ekstraktif (seperti tambang dan sawit) menyisakan persoalan lingkungan dan keberlanjutan yang serius.
5. Desentralisasi dan Otonomi Daerah yang memberikan kewenangan lebih besar kepada pemerintah daerah, telah terwujud. Juga peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan daerah.
Namun mash banyak Tantangan pada ketimpangan pembangunan antar daerah dan kualitas pemerintahan daerah yang bervariasi. KKN dan penyalahgunaan wewenang di tingkat daerah masih ada atau makin marak.
6. Reformasi berhasil menghapuskan Dwifungsi ABRI secara formal—mengembalikan tentara ke barak dan mengakhiri dominasi militer dalam urusan sipil. Namun, dalam praktiknya, bayangan peran politik militer belum sepenuhnya hilang. Figur-figur militer masih kerap menempati posisi strategis dalam pemerintahan, dan akuntabilitas serta transparansi institusi militer masih tertutup rapat.
Saya menghela napas panjang, menyadari bahwa banyak harapan Reformasi masih tertunda.
Lalu saya menoleh ke sekeliling.
Yang membuat saya kagum, begitu banyak anak muda hadir sore itu. Generasi baru yang, dalam banyak hal, cenderung disebut apolitis. Mereka tak punya hubungan emosional langsung dengan Reformasi, apalagi tragedi Mei 1998—sebagian besar bahkan belum lahir saat itu terjadi.
Beberapa datang karena ingin makan bakso, bersantai setelah perkuliahan, mendengar musik, atau memang penasaran ingin tahu lebih banyak tentang peristiwa gelap itu. Tapi satu hal terasa jelas: mereka tahu bahwa acara ini bukan sekadar hiburan. Mereka tahu ini tentang #MenolakLupa. Dan mereka peduli.
Tentu saja, saya tanyakan apakah penyampaian melalui konser, makanan, dan suasana santai seperti ini berpotensi mengencerkan pesan serius tentang pelanggaran HAM?
Ternyata tidak. Mereka berpendapat justru pendekatan ini membuat isu-isu berat lebih bisa didekati—lebih manusiawi, lebih membumi. Mereka membuka diri, bukan karena diajak untuk menghafal sejarah, tapi karena diajak untuk merasakannya.
Acara ini juga menghadirkan testimoni langsung dari jurnalis yang meliput peristiwa itu, dan arsip foto langka dari pendiri Portal Suara Independen. Dipadukan dengan seni ekspresif dari seorang mahasiswa doktorat, semuanya memberikan perspektif yang melengkapi.
Yang membedakan acara #menolakLupa tahun ini adalah pembahasan serius soal upaya pemerintah menulis ulang sejarah.
Profesor Hadiz dari University of Melbourne mengangkat kutipan George Orwell:
“He who controls the past controls the future; he who controls the present controls the past.”
Kutipan ini menggambarkan betapa berbahayanya manipulasi ingatan kolektif. Jika sejarah bisa dikendalikan oleh penguasa hari ini, maka masa depan pun bisa diarahkan sesuai kepentingan mereka.
Beberapa peristiwa kelam yang kini terancam dihapus dari narasi sejarah resmi antara lain:
Penculikan 23 aktivis pro-demokrasi oleh Tim Mawar, di bawah komando Prabowo Subianto.
13 dari mereka tak pernah kembali hingga hari ini.
Tragedi Trisakti, di mana 4 mahasiswa gugur ditembak aparat saat berdemo.
Kerusuhan Mei 1998, termasuk kekerasan brutal terhadap etnis Tionghoa—penjarahan, pembakaran, pemerkosaan massal—yang diduga dibiarkan bahkan direkayasa oleh unsur dalam militer.


Semua ini tak bisa dilepaskan dari dinamika internal militer saat itu, yang terbelah menjadi tiga faksi dengan kepentingan yang berbeda-beda.
1. Faksi Pro-Soeharto (Prabowo)
2. Faksi Status Quo (Wiranto)
3. Faksi Reformis Muda (SBY, Agus Widjojo)
Ketidakharmonisan tiga faksi militer membuat respons terhadap krisis Mei 1998 terkesan lamban dan tidak tegas, memperburuk situasi sosial-politik. Kekacauan saat itu bukan semata spontan, tetapi diduga kuat terkait konflik kekuasaan, pembiaran, bahkan rekayasa.
Lalu jika hari ini, di tahun 2025, proyek penulisan ulang sejarah oleh negara berhasil, apa yang akan terjadi?
Seluruh kengerian ini bisa hilang dari ingatan. Nama-nama yang seharusnya dimintai pertanggungjawaban bisa justru dikenang sebagai “pahlawan stabilitas.” Luka-luka itu bisa dianggap tak pernah ada.
Pertanyaannya: Jika kita tahu ini (sejarah akan ditulis ulang menurut versi pemerintah sekarang) sedang terjadi, akankah kita hanya diam?
Dalam ruangan itu, beberapa wajah tertunduk, tangan mengepal di pangkuan, atau menatap kosong ke layar. Suasana mengental, seakan kesadaran pelan-pelan tumbuh, diam-diam tapi tak terbendung.
Tahap akhir acara dilanjutkan dengan puisi, musik, dan ditutup dengan ritual asap First-nation, sebuah penghormatan terhadap tanah tradisional Naarm, tempat kami, pecinta Indonesia dan pendukung reformasi, diizinkan mengadakan acara yang dianggap tabu oleh sebagian pihak di tanah air.





Kami berharap para pengunjung pulang membawa lebih dari sekadar flyer, foto, perut kenyang, atau irama yang melekat. Kami berharap mereka pulang membawa sesuatu yang lebih bermakna: kesadaran yang lebih dalam.
Karena reformasi yang diperjuangkan dengan darah, tak bisa dibayar hanya dengan tepuk tangan.
Jangan biarkan Mei jadi tanggal kosong di kalender diaspora.
Jangan biarkan #MenolakLupa jadi slogan yang hampa.
Kita boleh bernyanyi. Kita boleh makan bersama. Tapi kita juga harus terus mengingat: ada yang belum pulang.
Laporan ini hanya cuplikan dari apa yang kami saksikan.
Video dokumenter, lengkap dengan wawancara penyelenggara, pengisi acara, dan suara-suara dari generasi muda, sedang kami rampungkan.
📽️ Tunggu tayangannya. Cerita ini belum selesai. Watch this space gaez!
Bacaan referensi:
https://www.abc.net.au/indonesian/2025-05-22/untuk-siapa-penulisan-ulang-sejarah-indonesia/105315356
Kita Terlalu Manja Pada TNI, Profesionalisme Militer Bukan di Ranah Sipil
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44949790?utm_source=chatgpt.com
