Baca juga Part I: Bali di Ambang Point of No Return: Dampak Perubahan Penggunaan Lahan
Menjelang sore, kami duduk di warung pinggir pantai. Laut tampak tenang, tapi di balik permukaannya menyimpan arus, seperti obrolan kami yang mulai bergelora.
“Ngomong-ngomong, dulu turis datang ke sini buat liburan. Sekarang, mereka tinggal lama, bahkan buka usaha. Gimana menurut kalian?” Sambil menikmati buah manggis, saya membuka obrolan.
“Ah, iya,” Ajeng cepat menjawab sambil menyeruput kopi panas, meski terik matahari. “Bener, sekarang banyak yang buka usaha juga. Digital nomads tuh makin banyak, nongkrong di kafe, nyampur, tapi ya mereka ngirit, beda sama turis biasa.”
“Terus, ada juga gelombang turis baru yang lebih pelit pengeluarannya, kayak dari India, misalnya.” Anto mengecek notifikasi di ponselnya sambil menikmati es krim. “Secara bisnis, market segmentation-nya berubah total,”
“Beda ya sama turis dari Australia atau Eropa, yang biasa ngeluarin duit banyak.” Dejoe yang baru join setelah nyobain moge nya Anto, menyambar. “Well, setidaknya ada pangsa pasar baru, tetep memberi kontribusi buat ekonomi lokal.”
Anto memasukkan kunci motornya ke dalam saku. “Bukannya anti turis ya, tapi harus ada level playing field. Kalo mereka buka usaha ilegal tanpa izin, tanpa bayar pajak, gimana kita bisa bersaing? Bisnis lokal jadi terancam.”
“Tapi, jangan sampe Bali kehilangan identitas budaya Bali, ya. Aku takut kalo Bali cuma jadi tempat komersil.” Saya menatap mereka serius, “Aku rasa ini bukan sekadar masalah pariwisata, tapi tentang identitas dan keadilan. Siapa yang berhak menentukan masa depan Bali? Penduduk lokal, investor, atau pemerintah?”
Ajeng mengibaskan rambutnya yang dihiasi bunga kamboja asli, bukan aksesori plastik yang dijual di toko-toko turis. Sambil menyentuh kalung perak berukir Tri Datu di lehernya, suaranya berubah serius. “Tiang merasa sedih melihat upacara suci kita jadi tontonan Instagram. Seperti di Finns Beach Club itu, mereka bikin pesta kembang api saat upacara agama! Ajak malu tiang. Dulu leluhur mewariskan tanah ini untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi, bukan untuk background foto turis.”
Saya memperhatikan bagaimana di tengah dunia yang berubah, Ajeng tetap anggun dalam keotentikan Bali—seolah mewakili pulau ini yang kecantikan aslinya terus bertahan walau banyak tekanan untuk berubah.
“Dan, pemerintah Bali tuh diam aja. Harusnya ya ada aturan yang jelas, bukan mikir untung terus.” DeJoe menggebrak meja pelan, tatapannya tajam ke arah vila mewah di kejauhan. “Niki soal masa depan krama Bali.”
“Halah, bukannya kamu enjoy-enjoy aja, ngikutin arus?” Wida menimpali sambil meletakkan es krimnya yang mulai meleleh. Dia melirik saya sejenak, “Tapi serius, pembangunan itu penting, asal ada keseimbangan. Jangan sampe budaya Bali yang kaya ini cuma jadi tempelan doang.”
“Betul,” saya mengangguk, sambil merogoh handphone dari kantong, siap-siap membuka voice-typing. “Gak ada yang mau Bali jadi seperti tempat lain yang hanya dikuasai properti komersial.“ Saya melanjutkan, “Kita harus bisa jaga Bali supaya tetap jadi Bali yang sejati, tanpa kehilangan warisan budaya yang ada.”
DeJoe masih menatap jauh ke depan, “Semoga Bali jani bisa terus maju, tapi tetap nganggen keindahan lan kearifan lokalnya.”
Wida tertawa pelan, matanya menyipit sedikit, sebelum menunduk dan mengaduk-aduk es krimnya dengan sendok. Entah kenapa, tawanya terdengar agak sinis. Bukan mengejek, tapi seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar harapan serupa.
Suasana di warung mengalir dengan warna-warni pendapat tentang realita, ironi dan masa depan Bali, diiringi dengan berubahnya warna langit, dari biru terang menjadi jingga keemasan, sementara ombak terus datang silih berganti, seolah mengingatkan bahwa perubahan memang tak terelakkan.

—
Bayang-Bayang Ekonomi & Lingkungan
Di balik semua percakapan itu, ada kenyataan yang lebih senyap namun tak kalah kuat, tentang bagaimana pariwisata mengubah kehidupan dari akar.
Perubahan besar pertama terlihat pada mata pencaharian masyarakat lokal. Banyak yang kini beralih dari pertanian ke sektor pariwisata. Itupun berat. Sopir-sopir bekerja 70 sampai 95 jam seminggu demi memberi nafkah keluarganya, tidak punya waktu untuk istirahat.
Ketergantungan ekonomi terhadap turisme meningkat drastis, membuat kehidupan warga menjadi lebih rapuh terhadap fluktuasi pasar wisata.
Di sisi lingkungan, dampak yang dirasakan pun tidak kecil. Pembangunan properti besar-besaran, terutama di kawasan pesisir seperti Canggu dan Teluk Benoa, telah menutup jalur-jalur mata air alami. Distribusi air menjadi tidak merata, dan sedimentasi dari proyek-proyek tersebut menurunkan kualitas air laut serta merusak ekosistem pesisir.
Sebuah botol plastik kosong tersapu ombak dan terdampar di pasir pesisir, tepat di depan kami duduk.
Sampah menjadi persoalan lain yang belum terselesaikan. Tahun 2024 saja, Bali dikunjungi lebih dari 6,3 juta wisatawan internasional, melampaui jumlah penduduk lokal yang hanya sekitar 4,2 juta. Akibatnya, penumpukan sampah, terutama plastik, menjadi ancaman nyata terhadap lingkungan dan kesehatan.
Ruang hijau pun kian menyusut. Untuk mendukung acara-acara besar pariwisata, bahkan teknologi seperti laser digunakan untuk “mengusir” hujan. Ini menyebabkan suhu udara meningkat dan memperburuk iklim mikro Bali.
Kemacetan di jalan-jalan utama menjadi pemandangan sehari-hari. Pelebaran jalan hampir mustahil karena banyaknya bangunan permanen, termasuk rumah warga dan pura yang tidak mungkin digusur.
—
Ketimpangan Sosial & Identitas yang Terancam
Tapi yang lebih rumit dari kemacetan atau sampah adalah pertanyaan yang lebih dalam: siapa yang masih punya kuasa atas identitas Bali?
Konflik budaya mulai muncul. Praktik adat yang selama ini sakral kerap berbenturan dengan kegiatan pariwisata. Kejadian seperti ini mencerminkan lemahnya tata kelola dan kurangnya dialog antara masyarakat adat dengan pemangku kepentingan pariwisata.
Tak kalah pelik adalah persoalan perumahan. Harga tanah melambung tinggi, menjauh dari jangkauan masyarakat biasa. Kini, banyak keluarga terpaksa tinggal berdesakan dalam satu atap. “Dua Are,” simbol dari impian sederhana untuk memiliki tanah sebesar dua are, kini terasa semakin mustahil.
Pembicaraan terhenti di situ. Semua diam, termenung. Hanya suara ombak mengisi kekosongan di antara kami.
Saya menoleh ke layar HP, berniat melanjutkan tulisan. Tapi notifikasi Instagram muncul. Sebuah unggahan viral dari selebgram Wanda Ponika mencuri perhatian: “Bali dijajah oleh WNA.”
Dalam unggahan itu, ia menyuarakan keresahan banyak warga, tentang turis asing yang datang bukan untuk liburan, tapi juga bekerja tanpa izin, membuka usaha sendiri, dan kadang bertingkah seolah mereka punya hak lebih atas tanah Bali.
Apa yang ia katakan terasa tidak asing. Saya pun melihat dan merasakan sendiri ketegangan yang semakin sering muncul, baik antara turis maupun antara turis dengan warga lokal. Tak sedikit turis asing yang tidak hanya berperilaku tidak sopan di tempat umum, tetapi juga membuka usaha ilegal seperti persewaan motor dan spa. Tindakan ini menimbulkan konflik dengan warga lokal, karena menciptakan persaingan tidak sehat dan mengganggu tatanan sosial serta ekonomi setempat.
Saya menghela napas, menutup Instagram, lalu menyeruput minuman saya. Setelah itu, saya melanjutkan menulis, dengan bantuan aplikasi voice-typing, sembari mendengarkan celotehan mereka yang sehari-hari tinggal berdampingan dengan para “turis lokal”. Bergantian Anto, Ajeng, DeJoe membagikan pengalamannya yang memprihatinkan. Wida, sang pragmatis banyak diam tapi menyimak. Anto menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal warga Rusia atau Ukraina, tapi juga melibatkan orang-orang dari Amerika, Eropa Barat, hingga Australia. Mereka datang dengan visa turis, lalu tinggal berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa izin tinggal resmi.
Banyak dari mereka bekerja secara ilegal, tidak membayar pajak, dan hidup mewah di tengah kesulitan ekonomi masyarakat setempat. Mereka juga secara terbuka mempromosikan visa bisnis atau kerja palsu lewat jasa ‘agen’, yang sebenarnya adalah bentuk penipuan sistem keimigrasian.
Saat pandemi, mereka justru menyebarkan ajakan agar orang pindah ke Bali karena murah dan “bebas”. Bisa beli e-book nya 30 dollar.
Beberapa dari mereka bahkan mengklaim Bali sebagai tempat yang “ramah bagi LGBTQ+”, tanpa memahami bahwa warga lokal yang LGBTQ+ masih harus hidup sembunyi-sembunyi karena stigma sosial yang kuat. Mereka bisa merasa aman karena status dan privilese sebagai orang asing, bukan karena masyarakat Bali sudah inklusif.
Tiap giliran Ajeng ngomong, saya sedikit salfok dengan gerakan bibirnya yang lancar bahasa Bali, sorotan matanya yang memancarkan kepedulian mendalam, hingga helai-helai rambut halus di pelipisnya yang basah oleh keringat. Wajahnya yang memikat tanpa makeup, tidak seperti sosmed influencer yang mengambil foto di Bali, merupakan kontras yang menenangkan dari topik-topik berat yang ia angkat. Dalam dirinya, saya melihat Bali yang sesungguhnya, tidak dikemas untuk turis, tidak dimodifikasi untuk media sosial, namun tetap mempesona dalam keotentikannya.
Saya menarik napas, kembali fokus pada obrolan.
Kelakuan sebagian turis di jalan pun kacau: melanggar lalu lintas, tak pakai helm, ugal-ugalan, menerobos pura, bikin pesta tanpa izin, bahkan ada yang mengendarai motor ke laut dan berjemur di tengah jalan, sampai memblokir akses kendaraan. Perilaku semacam ini bukan lagi sekadar turis tak sopan, tapi sudah menyerupai kolonialis yang merasa Bali bisa diperlakukan sesuka hati.
Bagi Anto, kami di situ, dan banyak warga lokal lainnya, situasi ini menyakitkan. Mereka ingin para pendatang menghormati aturan, budaya, dan perjuangan masyarakat Bali, bukan memanfaatkan pulau surga ini demi gaya hidup murah, eksotis dan tempat ugal-ugalan.
“Bro, kalau lo beneran peduli sama Bali, tolong suarain ini. Masak cuma dianggap dekorasi eksotis di tanah sendiri.”
Tidak lama mendiktekan pembicaraan itu melalui voice-typing, saya berhenti, menatap layar handphone. Transcript-nya sudah terekam. Klik tombol Save. Capek juga otak ini.
Saya menoleh ke arah cermin bergelombang yang memancarkan warna langit. Hampir sunset, saat yang paling ditunggu.
Di seberang penungguan, berdiri sebuah bangunan baru, tinggi dan kinclong, dengan kaca dari lantai ke atap. Tak ada ukiran, tak ada ornamen Bali. Hanya bentuk kotak yang kaku dan tanpa karakter, yang memantulkan cahaya jingga dari langit sore. Saya mengernyit. Rasanya asing.
Apa yang terjadi pada karakter khas Bali? Apakah kita sedang membangun masa depan, atau justru menghapus jejak masa lalu? Desain gedung-gedung modern mulai menggantikan arsitektur tradisional. Apakah ini hanya soal estetika, atau sebuah pergeseran yang lebih dalam, yang diam-diam mengikis jiwa Bali itu sendiri?
Temukan jawabannya di bagian berikutnya…
Sumber referensi:
https://ouryearinbali.com/expats-driving-and-navigating-bali-traffic/
