Tulisan ini datang seperti ledakan—asap bakaran ban seorang rekan yang sudah lama melintang di dunia kata dan film dokumenter. Kali ini ia menitipkan amarah dan suara batinnya kepada kami, tepat di Hari Buruh, 1 Mei.

Ini adalah jeritan, satire, dan doa yang dinyalakan dalam satu napas. Ia ingin memuntahkan—macam perut neraka yang kebelet jujur. Di tengah janji reformasi yang dikorupsi dan ketimpangan yang melemahkan buruh, tulisan ini hadir bagai cermin retak: merefleksikan kesadaran kelas yang selama ini diburamkan, mengingatkan kita pada akar perlawanan buruh yang lahir dari luka, bukan slogan. Hari Buruh bukan hanya perayaan, tapi momen refleksi.

Mari kita simak.


Oleh: Rahung Nasution – Kamis 1 Mei 2025

Kau tahu, dunia ini tak lagi punya langit. Sudah dijual, dipreteli, diperkosa jadi papan reklame. Langit Jakarta dibentangkan jadi layar konser amal, dijual ke bank syariah dan kampanye makan bergizi, padahal nasi anak-anak stunting itu dicuri pejabat dan dikasih makan ke anjing peliharaan di Menteng. Langit itu kini milik drone militer, milik TikToker rohis yang ngaji sambil endorse serum pemutih. Langit sudah dicetak jadi akta kepemilikan properti—dijual ke crazy rich dari Korea dan Abu Dhabi. Langit itu milik anak pejabat yang punya penthouse dengan view kuburan massal korban 98 yang katanya sudah dituntaskan, padahal baru ditutupi paving block.

Di sela suara motor yang ugal-ugalan, di bawah sorotan neon yang gagu, tanah mulai meletup. Bukan gempa. Ini perut neraka kebelet muntah. Karena SCBD sudah penuh dosa busuk—dosa yang minum wine sambil ngaji, dosa yang pakai gamis tapi dompet isinya duit siluman bansos, dosa yang numpang salat di masjid mewah sambil nego komisi tuk proyek MRT fiktif. Tanah menggeliat karena Slank menyanyikan “Polisi yang Baik Hati” dengan irama yang diaransemen oleh kantor staf khusus presiden. Karena konser solidaritas digelar di GBK sambil tim EO-nya nahan invoice gaji volunteer. Karena influencer anti korupsi justru dapat fee buat promo dana haji yang ternyata disalurkan ke proyek mining milik sepupu menko. Karena klinik kecantikan dokter Tompi buka cabang di gedung yang tanahnya dulu bekas kampung digusur pakai pasal “penertiban keindahan kota.” Karena Iwan Fals sekarang duet dengan penyanyi dangdut milenial dalam iklan makan siang gratis—yang dananya disunat hingga anak-anak di panti asuhan cuma makan mie instan tanpa bumbu.

Dan yang dimuntahkannya: dua iblis yang dilupakan sejarah, tapi disimpan baik-baik oleh ingatan kotor manusia.

Yang pertama—Azkarela, perempuan bekas biarawati yang dulu membakar altar demi dendam. Kini dia merokok di rooftop SCBD, pakai outfit jaket kulit, kacamata gelap, dan sepatu bot bekas kobaran api. Dia naik Vespa tua—membelah Kemang sambil melempar pamflet puisi Chairil yang disensor oleh Lembaga Sensor Film karena terlalu mirip kritik terhadap istri menteri. Matanya menyala kayak bara, memandang ke arah gedung Kemensos yang baru direnovasi dari hasil markup bansos COVID.

Suaranya tak keluar dari mulut, tapi dari dinding yang retak dan anak-anak yang mimpi buruk tiap malam. Mulutnya mulut api, lidahnya cemeti neraka. Sekali dia buka mulut, dunia jadi dapur jagal.

Yang kedua—Krawzag. Tak pernah bicara. Tak perlu. Dia muncul di depan Gedung BIN, bawa poster nama-nama yang hilang dan yang dibunuh: Udin, Marsinah, Herman, Wiji, Bimo,.. Sondang, Theys, … Wajahnya topeng bordir: benang-benang dosa dijahit pakai tangis anak yatim. Topeng itu disulam dari bekas jilbab aktivis yang diperkosa lalu dibakar dalam mobil tahanan. Giginya—ya Tuhan—rapih, putih, siap mengunyah iman yang tinggal tulang. Ia datang pakai baju adat, tapi yang disulam bukan bunga, melainkan jeritan gadis-gadis kampung yang dituduh jalang oleh para ustaz yang suka nyuri celana dalam.

Mereka berdua bukan ingin menguasai. Mereka ingin membalas. Karena dunia ini lebih laknat dari neraka itu sendiri. Karena manusia, Lae, sudah melampaui setan dalam hal bejat. Karena anak-anak Jaksel kini baca puisi Mircea sambil lempar molotov ke pos satpam cluster. Karena anak-anak SMA dengan sneakers dua juta sekarang coret tembok Senayan pakai kutipan Wiji Thukul: “Jika kau tak menemukan aku di rumahku, cari aku di jalan.” Dan mereka menemukannya—di jalan tol, di mana jenazah aktivis ditemukan terbungkus plastik, lalu dikabarkan overdosis oleh rilis resmi kepolisian.

Karena makan bergizi gratis yang dikorupsi. Karena mantan aktivis sekarang jadi komisaris perusahaan tambang. Karena dana haji disulap jadi investasi restoran Jepang milik anak menteri agama. Karena anak-anak kurang gizi dipaksa ikut lomba mewarnai kemerdekaan, dengan krayon sumbangan perusahaan rokok.

Di malam ketika bulan haid dan tanah mencium muntah sendiri, mereka datang. Desa pun terbakar bukan karena api, tapi karena malu—karena diseret ke cermin, disuruh lihat wajah sendiri.

Dan kini bukan cuma desa, tapi Istana Presiden ikut terbakar—bukan oleh bensin, tapi oleh sajak. Sajak yang dicetak rahasia oleh penyair underground, dibagikan di TikTok anak Jaksel yang bosan dugem, yang muak lihat ibunya selfie di depan masjid mewah hasil sedekah korporasi dosa. Gedung DPR ikut terbakar—meleleh karena protes tak lagi teriak, tapi mendesis lewat EDM remix puisi Idrus yang dibacakan di club techno bawah tanah. Mereka menari dengan kaos Wiji, rok mini penuh cela, lipstik warna darah, teriak “reformasi dikorupsi!” sambil menghisap rokok dari pasar loak—karena vape sudah disita Bea Cukai dan dijual ke pasar gelap oleh satgas antinarkoba.

Karena semua telah dibakar. Karena semua telah dikhianati. Karena semua telah diperkosa: sejarah, janji, puisi, doa, dan bahkan iblis pun sekarang bingung, karena manusia, Lae—manusia telah membuat neraka terlihat seperti playground.

Dan manusia? Mereka menjerit, bukan karena takut. Tapi karena sadar: neraka cuma cermin dunia yang jujur.

Dan cermin itu sekarang dihancurkan, dijilati tikus got yang kenyang makan tulang korban penggusuran. Cermin itu kini jadi pecahan kaca di mata anak-anak muda yang tak bisa tidur bukan karena dosa, tapi karena kebenaran tak punya saluran. Tak ada lagi mikrofon. Tak ada lagi panggung. Tinggal cermin. Dan yang terlihat di dalamnya: wajah kita. Dan wajah itu, Lae… wajah itu lebih menyeramkan dari semua iblis yang pernah kita tulis.

Rahung Nasution
Hari Buruh, Kamis 1 Mei 2025