Part 1



Pagi itu, mobil kami terjebak kemacetan di jalan menuju Canggu. Suasana hiruk pikuk, panas, udara terhimpit antara kendaraan yang bergerak pelan.


Di kursi depan, saya melirik ke luar jendela, melihat deretan bangunan di pinggir barisan kendaraan yang bergerak lambat, “Bali udah berubah banget ya?”


Saya melirik Wida dan Ajeng di kursi belakang. “Dulu sawah di mana-mana, sekarang malah vila dan bangunan di sana-sini.”


Wida dengan suara santai mengangguk, “Canggu sih parah, hampir nggak ada tanah kosong lagi. Petani Bali sekarang gimana ya?”


Jawabannya membuat saya menyadari betapa signifikan perubahan yang sedang berlangsung. Di balik kemacetan ini, terdapat transformasi yang lebih mendalam, yang tidak hanya merombak wajah Bali, tetapi juga mengubah kehidupan banyak orang.


“Sebenernya sih, itu nggak aneh juga, ya. Soalnya pariwisata Bali kan lagi berkembang pesat. Banyak turis, banyak investor, jadinya ya permintaan properti juga ikut naik, lah.” Ajeng dengan logat Balinya yang kental menambahkan dengan nada serius.

Saya kecilkan volume musik.

“Tapi yang jadi masalah, banyak petani yang terpaksa jual tanah mereka, soalnya penghasilan dari bertani udah nggak sanggup ngejar inflasi biaya hidup.”


Dejoe yang dari tadi berusaha tidur karena pening kepala, buka mata dan menyeletuk sambil tangan kiri pijit pelipis, “Banyak yang ngajual tanah mereka karena harga tanah udah edan bener. Banyak yang dulunya petani sekarang nyambung kerja di pariwisata, ya ada penghasilan, tapi sawah hilang dan harga rumah makin nggak terjangkau.”

“Benar banget, bli Dejoe.” Tegas Ajeng, “Padahal, banyak lahan pertanian yang seharusnya dilindungi. Pemda malah ngebuka peluang buat alih fungsi lahan soalnya mereka pengen meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Yang rugi, ya, masyarakat lokal, lah”


Tiba-tiba saya juga merasa pening, memikirkan bahwa daerah subur di Bali, seperti Canggu dan Ubud, sebenarnya sudah cukup produktif untuk memberikan pendapatan bagi masyarakat setempat melalui pertanian, tanpa perlu dibuka untuk alih fungsi lahan menjadi properti.

Kalau sebaliknya bolehlah, daerah-daerah yang kurang produktif, kering, dan tidak subur seperti Nusa Dua, Jimbaran, Uluwatu, serta wilayah lain di Badung, Denpasar, Klungkung, dan Karangasem, silakan dibuka untuk investor asing, dialihkan menjadi vila dan bangunan modern lainnya. Dengan begitu, peluang ekonomi baru tercipta, tanpa mengganggu ketahanan pangan atau mata pencaharian masyarakat yang sudah turun-temurun bergantung pada pertanian.

gambar dari Klaviyo


Anto, yang sibuk mengemudi sambil merokok, buka suara sambil sedikit tertawa, “Ya, gitu deh. Gak usah heran, kalau Pemda juga ‘penyebab’ perubahan ini. Banyak oknum salah kenakan pajak. Tanah pertanian yang seharusnya dikenakan pajak lahan, malah dikenakan pajak properti. Kacau banget deh!” Dengan santainya dia hembuskan asap rokok lewat celah jendela yang terbuka sedikit.


Wida menghela napas, “Susah banget ya, kalau udah kayak gitu. Lahan mahal, warga lokal terjepit, sementara orang luar—termasuk investor asing—masuk semua, udah gitu peraturan Pemda banyak yang enggak jelas.”


“Iya, gue denger juga ada kasus-kasus yang cukup memprihatinkan soal izin pembangunan yang gak jelas… atau sengaja dibikin gak jelas,” Anto tertawa sendiri. “Jadi banyak proyek ilegal.”


Dejoe yang tambah pusing karena tetap tidak bisa tidur menambahkan, “Terus, kalo kita lihat dampaknya, ya makin banyak warga lokal yang pindah ke sektor pariwisata. Tapi, masalahnya, mereka jadi kebanyakan ngandelin turis. Kalo pariwisata turun, ekonomi lokal bisa jatuh juga.”


“Memang, investor asing sih nyelamatin Bali, tapi harusnya pemerintah bisa cari cara buat menjaga keseimbangan. Jangan cuma mikirin duit, tapi juga nasib masyarakat lokal yang tanahnya makin hilang.” Celetuk Anto sambil mematikan rokoknya dan menutup rapat jendelanya. Kali ini tidak sambil tertawa, raut mukanya terlihat dalam dilema. Atau mungkin sudah capek menyetir di tengah kepadatan lalu lintas.


“Bro Anto, ngomong-ngomong kamu pengembang property di Canggu, jadi tajir gini, awalnya dapet modal dari mana sih kalo boleh tahu?”


“Modal dengkul bro, mereka dari Rusia bayar dimuka.”

Oh asik, siapa yang tidak mau? Meskipun Anto, yang tidak setuju dengan ekspansi bisnis Rusia, tetap saja dia mau menerima kemudahannya, saya bergumam dalam hati. Ironis, uang berbicara, dan dampak positif dan negatif tergabung dalam satu paket perubahan ini.


Mobil melaju perlahan, suara klakson terdengar di tengah kemacetan yang sepertinya akan berlangsung lama.

Pembicaraan berlanjut, saya meraih handphone, membuka aplikasi pengetikan suara, dan mulai mendiktekan apa yang saya tangkap:

Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan


Peningkatan Pariwisata: Laju kunjungan wisatawan yang semakin pesat menyebabkan permintaan akan properti pariwisata melonjak. Bandara Bali yang selalu ramai, bahkan di musim sepi, menjadi bukti jelas betapa tingginya minat terhadap sektor pariwisata.


Faktor Ekonomi dan Kebijakan Pemerintah: ada dua, yang negatif dan yg wajar.


Penyebab Negatif: Pemerintah daerah (Pemda) cenderung mendukung perubahan lahan pertanian menjadi lahan komersial demi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Beberapa oknum bahkan mengenakan “pajak perumahan” yang lebih tinggi pada tanah pertanian, padahal pajak yang seharusnya dikenakan adalah “pajak lahan,” yang lebih murah.


Penyebab Wajar: Menurut Oka Swadiana, pejabat Pemerintahan Kabupaten Badung, alih fungsi lahan ini terjadi karena tingginya permintaan akan hunian, terutama di kawasan yang dekat dengan perkotaan dan destinasi wisata. Di pedesaan, lahan subur dengan pemandangan sawah yang indah semakin diminati oleh investor yang ingin membangun properti.


Faktor Sosial dan Keputusan Pemilik Tanah: Banyak pemilik tanah (the haves) menjual lahan mereka karena pendapatan dari pertanian semakin tidak mencukupi untuk menutupi biaya hidup yang melonjak. Meski kehilangan lahan, mereka merasa diuntungkan oleh hasil penjualan yang besar.


Faktor Investor Asing:  Investor asing termasuk dari Rusia dan Jakarta, hingga selebriti seperti Nicky Mirza, pengacara Hotman Paris dan lainnya turut berperan dalam mengubah lahan pertanian menjadi properti komersial. Mereka bekerja sama dengan Pemda untuk mengubah status lahan, meski sering kali melanggar peraturan. Izin pembangunan seringkali rancu, berubah, atau bahkan sengaja disembunyikan. Tak jarang, kasus penipuan dan pemerasan muncul, seperti yang melibatkan Bendesa adat di Berawa terkait penjualan tanah.


Pengaruh Industri Konstruksi: Kontraktor dan pengembang properti, terutama yang bekerja dengan investor Rusia, diuntungkan dengan pembayaran proyek yang dilakukan di muka. Hal ini menyediakan dana siap pakai, meskipun di baliknya terselip isu-isu negatif, termasuk dugaan keterlibatan dalam praktik pencucian uang.

Saya menatap layar handphone sejenak. Setelah menekan tombol Save, saya menoleh ke luar jendela, dan pikiran saya kembali terperangkap dalam kompleksitas perubahan lahan yang tak terhindarkan ini. Tanpa sadar, saya tertidur dalam kemacetan lalu lintas.


Bersambung…


Apa masalah lingkungan akibat alih penggunaan lahan? Mengapa terdengar ribut-ribut soal turis? Apa yang terjadi pada karakter khas Bali? Desain gedung-gedung modern mulai menggantikan arsitektur tradisional. Tapi, apakah ini hanya soal estetika semata, atau ada dampak yang lebih dalam yang bisa mengancam budaya Bali itu sendiri?


Temukan jawabannya dan lebih banyak lagi di Part 2…..

Renungan Malam oleh
Mario NgopiDulu
@ Oktober 2024

Terimakasih pada Ogi, pak Dejoe, dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-satu.