Di Jakarta, seorang pengusaha muda menatap layar ponselnya. IDR 3 miliar lenyap. Sekejap.
Tak ada teriakan, tak ada drama berlebihan, hanya deretan angka yang berubah, warna merah, grafik menukik jatuh, dan transaksi yang tak bisa ditarik kembali.
Beberapa hari kemudian, pada 9 Januari 2026, sebuah laporan resmi masuk ke kepolisian dengan nomor LP 227/I/2026. Dalam berkas tersebut, pengusaha muda itu hanya dikenal dengan satu huruf: Y.
Nama yang terlapor adalah Timothy Ronald, figur publik di dunia kripto, dan Kalimasada, seorang trader dari lingkaran yang sama.
Laporan itu menyebut sebuah penawaran investasi koin kripto bernama Manta, dipromosikan dengan janji imbal hasil 300–500 persen. Kenyataannya jauh berbeda: nilai koin merosot tajam, meninggalkan kerugian yang diperkirakan mencapai IDR 3 miliar.
Kerugian Y itu terasa bagaikan lubang hitam, uang yang seharusnya bisa diinvestasikan untuk bisnis atau properti riil kini hilang di pasar finansial. Tapi Y hanyalah satu dari jutaan orang yang merasa jalan menuju kesejahteraan semakin sempit.
Sektor Riil dan Sektor Finansial: Kesenjangan yang Membesar
Di luar kisah individu itu, ratusan juta orang hidup di sektor riil: berdagang di pinggir jalan, memproduksi barang nyata, bekerja dari pagi hingga malam demi mempertahankan hidup. Mereka menciptakan nilai riil, menyerap tenaga kerja, dan menopang ekonomi sehari-hari. Ironisnya, seluruh kerja nyata ini hanya menguasai sekitar ±10% dari total nilai ekonomi nasional. Mereka bekerja paling keras, namun memperoleh bagian paling kecil.
Di sisi lain, sektor finansial tumbuh liar. Saham, kripto, derivatif, dan berbagai instrumen spekulatif menciptakan ilusi kemakmuran tanpa produksi, tanpa pekerja, tanpa manfaat sosial yang nyata. Uang berputar cepat di layar, tetapi berhenti sebelum menyentuh rakyat. Kekayaan menumpuk di tangan segelintir pemain, sementara ekonomi nyata dibiarkan kekeringan likuiditas.
Inilah paradoksnya: uang tak lagi bekerja untuk manusia. Modal yang seharusnya menghidupi usaha kecil dan membuka lapangan kerja justru dikurung dalam kasino finansial. Dampak sosialnya nyaris nol, tidak ada penciptaan kerja, tidak ada pemerataan, tidak ada perbaikan kesejahteraan kolektif.
Narasi kesuksesan pun dibajak. Influencer memamerkan “cuan” dan gaya hidup mewah, menciptakan standar palsu tentang keberhasilan. Yang ditampilkan hanyalah pemenang, sementara ribuan yang kalah diam senyap, fenomena Survivorship bias.
Akibatnya, rakyat dipaksa berebut remah ekonomi yang makin mengecil. Distribusi kekayaan macet, mobilitas sosial terkunci, dan generasi muda didorong ke spekulasi sebagai jalan pintas semu, bukan karena serakah, tetapi karena jalur rasional menuju kesejahteraan telah ditutup sistem.
Dalam teori Keynesian, ekonomi sehat memperluas output riil dan penyerapan tenaga kerja. Yang terjadi justru sebaliknya: sektor spekulatif miskin multiplier effect diprioritaskan, sementara sektor riil padat karya ditinggalkan, sebuah pilihan struktural yang memperdalam ketimpangan.
Pemerintah dan Masalah Struktural
Masalah ini bukan soal perilaku individu, dan jelas bukan kebetulan. Struktur pemerintahan yang lemah dan korup menjadi penyebabnya. Negara gagal mengarahkan modal ke ekonomi produktif:
• Insentif untuk UMKM, manufaktur, dan industri padat karya minim.
• Korupsi dan regulasi lemah membuat modal rakyat kecil tersedot ke jalur elite atau spekulatif.
• Aliran modal ke sektor finansial tidak tertahan, dan financialization berkembang tak terkendali.
• Ketergantungan pada ekstraktif dan komoditas padat modal tanpa regulasi dan insentif distribusi kekayaan memperparah ketimpangan.
Akibatnya, pengangguran tinggi, ketimpangan meningkat, dan jalur rasional menuju kesejahteraan makin sempit. Generasi muda terdorong ke jalan pintas heroik di pasar finansial, padahal ini justru merusak stabilitas ekonomi sosial. Dalam ekonomi sehat, uang menciptakan kerja, di sini, uang justru menjauh.
Generasi Muda Terjebak di Spekulasi
Y hanyalah contoh kecil. Banyak generasi muda lain menghadapi realita serupa, jalan ke kesejahteraan melalui kerja keras di sektor riil terasa tertutup:
• Lapangan kerja terbatas, upah stagnan, harga aset tinggi.
• Influencer memamerkan keuntungan trading, saham, atau kripto → menciptakan ilusi kesuksesan.
• Banyak yang gagal tidak terlihat; yang berhasil disebarluaskan → survivorship bias.
Dari sini lahir keyakinan berbahaya: “Uang terbaik adalah uang yang tidak melewati tangan manusia lain.” Logika ini memutus hubungan antara uang, produksi, dan kerja, menggerogoti fondasi sosial ekonomi.
Saya melihat bagaimana logika spekulasi dan abstraksi digital merembes ke ekonomi riil.
Sebuah Ajakan: Investasi yang Mendukung Sektor Riil
Di sinilah mikro intervensi individu menjadi relevan. Individual investor seperti Y mustinya mempertimbangkan investasi di sektor riil.
Kerangka kuadran Investasi (I) dalam Cashflow Quadrant Robert Kiyosaki digunakan dalam tulisan ini sebagai pendekatan analitis untuk menyoroti pentingnya investasi pada sektor riil, sebagai pelengkap, bukan pengganti, investasi di sektor finansial.
Di Indonesia, pilihan nyata termasuk:
• Properti: Investasi di properti bukan sekadar mencari cuan, tapi juga menciptakan lapangan kerja kontraktor, pengelola properti, dan memenuhi kebutuhan hunian atau ruang usaha.
• Bisnis Produktif: Menanamkan modal ke perusahaan yang produktif, misal sebagai angel investor atau venture capitalist, langsung menciptakan produksi dan menyerap tenaga kerja.
Sederhananya: Dengan menempatkan modal di sektor riil, setiap individu tidak hanya melindungi kekayaannya sendiri tetapi juga membantu membuka ruang ekonomi bagi rakyat kecil, menghasilkan nilai nyata, menciptakan lapangan kerja, dan menyebarkan distribusi kekayaan.
Pesan Akhir: Menghidupkan Ekonomi Rakyat
Kisah Y mengingatkan kita: Masalah ekonomi bukan sekadar “rugi di trading” atau “tidak punya uang”. Masalah sesungguhnya adalah: uang yang seharusnya menghidupi masyarakat kecil dialihkan ke sektor finansial yang hanya dinikmati segelintir orang.
Dengan menempatkan modal di sektor riil melalui investasi yang produktif, setiap individu bisa menjadi bagian dari solusi.
Setiap keputusan berinvestasi di properti, bisnis produktif, atau sektor riil lainnya, adalah langkah nyata untuk menghidupkan ekonomi rakyat, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga hubungan antara uang, produksi, dan tenaga kerja.
Namun jangan salahkan generasi muda ketika mereka lari ke spekulasi.
Salahkan pemerintah yang menutup jalur rasional menuju kesejahteraan.
Negara membiarkan sektor riil mati perlahan, membiarkan lapangan kerja mengering, dan membiarkan uang rakyat kecil tersedot ke pasar finansial yang tidak menciptakan apa-apa selain ilusi.
Dalam kondisi seperti ini, spekulasi tampak heroik, bukan karena ia benar, tetapi karena negara absen.
Jika ini terus dibiarkan, kita tidak hanya kehilangan uang.
Kita kehilangan kesempatan membangun masa depan ekonomi yang berkelanjutan.
Kita tidak mencetak investor atau pengusaha produktif.
Kita mencetak generasi yang terputus dari realitas sosial.
Dan itu adalah kegagalan politik yang jauh lebih berbahaya daripada kerugian finansial.
Penulis: Januari @2026 Mario Ngopidulu, memiliki latar belakang sarjana ekonomi dari FEUI, pernah belajar langsung dari tokoh-tokoh ekonomi seperti Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sri Edi Swasono, dan Sri Mulyani.
Bacaan tambahan:
https://www.bi.go.id/id/statistik/ekonomi-keuangan/seki/default.aspx
