Oleh: Roberto Hutabarat
“Orang Bali cinta damai, tidak suka demo”
“Demonstrasi bukan sifat orang Bali”
“Orang Bali itu polos, tidak suka politik”
“Bali harus aman dan damai biar lancar megae di pariwisata”
“Ngapain orang luar ikut campur urusan Bali”
Ujaran-ujaran di atas biasanya selalu muncul dan diucapkan berulang-ulang (repetisi) setiap kali ada aksi protes massa di Bali, atau jika ada peristiwa demonstrasi besar di negara ini yang merembet juga ke Bali. Banyak yg mengira ujaran2 warga Bali di atas adalah aspirasi murni dan atas kesadaran alami. Tidak sama sekali! Narasi-narasi tersebut merupakan semiotika “warisan leluhur” yang punya akar sejarah panjang yang muram, ironis dan tragis.
Paling tidak sejak saya studi di Unud thn 90-an awal, narasi-narasi tsb sudah ada, sering saya dengar dan biasanya dipakai para dosen, aparat pemerintah dan ABRI untuk membungkam kritik mahasiswa dan warga Bali.
Pada awalnya saya dan teman2 mahasiswa yg kerap mengkritik dan buat aksi demo (dan kami yg bukan berasal dari Bali) agak terkejut batin juga sering dituding oleh beberapa dosen sbg pihak yg membawa pengaruh buruk ke mahasiswa Bali. Tapi akhirnya setelah belajar dari “dosen-dosen” kritis orang Bali di luar kampus, akhirnya kami paham latar belakang mengapa narasi-narasi tadi muncul.
Era Baliseering (Balinisasi) 1920 – 1960.
Dari pengetahuan sejarah yang kami peroleh dari “guru/dosen bawah tanah” orang Bali sendiri ternyata narasi-narasi dikotomis (Orang Luar Bali dan Orang Bali Asli) tersebut sudah terbentuk dan sengaja dikonstruksi oleh kolonial kompeni sebagai strategi penundukan masyarakat wilayah jajahan mereka di Bali.
Strategi kolonial itu disebut dengan “Baliseering” atau Balinisasi. Kebijakan kumpeni Belanda ini dilakukan pasca terjadinya tragedi genosida Puputan Badung (September 1906) dan Puputan Klungkung (April 1908). Kumpeni saat itu betul2 sangat kewalahan menghadapi betapa keras dan beraninya perlawanan pejuang dari kalangan masyarakat Bali, terutama di dua daerah tadi.
Pasca tragedi Puputan tersebut, kompeni Belanda lalu merumuskan dan memberlakukan BALINISASI atau Baliseering sebagai upaya cegah tangkal (cekal) dengan mengedepankan metode “Politik Kebudayaan” untuk meredam dan membungkam kecenderungan orang Bali yg suka melawan atau memberontak. Caranya dengan mendatangkan para ahli orientalis, etnografi, dan seniman2 barat/eropa ke tanah Bali untuk mengeksplorasi dan menampilkan citra Bali baru: bukan lagi sebagai orang-orang yg suka berperang dan melawan pemerintah kolonial, melainkan citra Bali sebagai: Tanah Surga atau The Last Paradise on Earth.
Sejak kedatangan para orientalis setelah kolonial menjajah penuh pulau Bali, terciptalah beragam propaganda dan narasi tentang Bali termasuk tentang gambaran karakter Orang Bali. Oleh para orientalis barat, budaya, seni, cara hidup dan agama orang Bali digambarkan berbeda dengan yang lain (the others) di Nusantara: Bali itu otentik, unik, eksotik, romantik, erotik, penuh mistik dan masih primitif. Orang Bali dideskripsikan sebagai sosok manusia-manusia seniman, suka melukis, mahir membuat patung, suka menari, polos, lugu, dan setengah telanjang!
Bali dicitrakan oleh kolonial sebagai Tanah Surga yang Indah, Aman dan Damai, yang harus dijauhi oleh tangan-tangan pihak luar yang ingin mengotorinya: terutama dari pengaruh buruk outsiders (orang luar) dari pulau Jawa. Pada era kolonial Belanda inilah sejarah awal imajinasi dan citra Pariwisata Bali dibentuk.
Politik Baliseering ini punya misi utama untuk mencegah kerajaan2 di Bali untuk meminta bantuan kepada pihak luar Bali, karena tentara kompeni sangat paham dengan sejarah perang antar kerajaan di Bali yg banyak melibatkan dukungan dari pihak luar Bali, terutama dari latar belakang sejarah bagaimana invasi dan penundukan Majapahit ke pulau Bali. Dengan Balinisasi, pemerintah kolonial Belanda bermaksud memisahkan dan mengisolasi pulau Bali dari pengaruh luar yang bisa merusak citra Bali yang mereka bangun.
Lewat Baliseering, kolonial juga menciptakan politik anugerah pangkat dan berbagai macam gelar-gelar kehormatan untuk kalangan priyayi berkasta tinggi. Photografer kolonial sengaja menjepret dan memframing imaji foto raja-raja Bali atau bangsawan Bali nan gagah perwira, sebagai cara memberi pujian dan memompa ego kebanggaan mereka di hadapan para pengikutnya. Ini semua dilakukan kolonial untuk menghapus ingatan dan membuat Orang Bali lupa akan jejak DNA dan genealogi keberanian dan sifat pemberontaknya.
Era Pasca Gestok 65 (desoekarnoisasi Bali) 1965 – 1990-an
Praktik Balinisasi di era kolonial Belanda tidak lantas hilang atau pudar walaupun Indonesia telah merdeka. Pasca Indonesia merdeka narasi kolonial Baliseering hanya mengalami dormansi karena nasionalisme sedang menggebu-gebu saat itu. Walau dalam masa dorman, ide Baliseering terus berjalan dan diwariskan, apalagi karena citra Bali sebaga daerah Pariwisata sudah kadung tersohor ke seantero dunia.
Narasi Balinisasi kemudian bangkit dari tidurnya pasca tragedi pembantaian orang Bali di tahun 1965-1967. Narasi Baliseering bahkan secara lebih kuat dimodifikasi dan dipompa terus oleh rezim militer Orba. Tujuannya hampir sama dengan ide kolonial, yaitu, dalam perspektif “Power and Language”: untuk meradikalisasi dan mendegradasi mental kritis dan keberanian orang Bali. Agar tak muncul lagi benih-benih dari 80.000 PKI dan simpatisannya yang dibantai dan dihilangkan dengan bengis dan brutal oleh Orba.
Pada era pasca tragedi 65, industri pariwisata Bali dijadikan rezim militer Orba sebagai media transformasi. Bali ditransformasikan oleh rezim Orba dari tempat kerusuhan tradisional menjadi model tradisi yg bisa meraup banyak keuntungan. Dari lokasi pembantaian horor manusia menjadi tempat liburan dan hiburan paling alami, berseni, dan paling berbudaya.
Untuk menjadikan Bali sebagai daerah dengan “tambang utama” Pariwisata, maka para penguasa dan politikus Indonesia dari jaman ke jaman wajib memastikan ide warisan kolonial “Baliseering” terus hidup dan ada di benak warga Bali yang ignoran dengan sejarahnya: bahwa Bali tidak membutuhkan manusia Bali yg kritis, suka mengkritik, suka demo, protes, pemberontak dan suka melawan.
Bisnis Pariwisata total membutuhkan manusia2 pelayan bak robot yang seperti mesin, rutin dan disiplin. Patuh pada jam kerja dan nrimo pada upah yg ditentukan oleh pemodal. Hospitality dalam dunia tourism mensyaratkan masyarakat yg sopan, murah senyum, ramah tamah dan penuh kenangan. Terutama ramah dan murah kepada turis asing dan pendatang berkasta tinggi. Bukan kepada pemulung apalagi kepada demonstran, orang luar Bali.
Roberto Hutabarat, 10 September 2025 – Antropolog, human rights defender, tinggal di Bali.
