https://www.instagram.com/reel/DNYVRgqP_iN/


Inilah satu dari sekian banyak potret kelam, kisah nyata yang menampar nurani siapa pun yang masih mengaku manusia.


Raya, seorang balita dari keluarga miskin, meregang nyawa bukan semata karena penyakit, tapi karena sistem kesehatan yang tak berpihak pada rakyat kecil, dan negara yang gagal hadir.

Sayangnya, berita seperti ini tenggelam. Media-media besar penuh sesak memuat drama politik para elit, perseteruan antar penguasa, parpol rebutan posisi dan kursi jabatan.

Sementara di sisi lain negeri ini, rakyat kecil mati, dalam senyap. Tidak ada breaking news, tidak ada siaran langsung dari rumah sakit, tidak ada headline penuh empati di jam prime time.


Kronologi Kasus Raya

13 Juli 2025 – Raya dievakuasi dari rumahnya dalam kondisi tidak sadar.

Diketahui lahir dari seorang ibu dengan gangguan mental dan hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tak pernah dibawa berobat, karena tak ada untuk biaya sepeser pun.

Dibawa ke IGD RSUD Respudi, langsung masuk PICU karena kondisi kritis.

“Kami baru menyadari ternyata Raya tidak memiliki kartu identitas yang otomatis tidak memiliki BPJS baik yang bantuan pemerintah apalagi yang mandiri.”

Rumah sakit memberi waktu 3×24 jam untuk mengurus identitas dan jaminan. Jika gagal, status menjadi pasien dengan pembayaran tunai.

Tim dari Yayasan Relawan Rumah Teduh turun langsung ke lapangan.

“Mulai dari hari pertama Raya masuk ke ujung, perjuangan berat dan kesabaran relawan kami betul-betul di uji. Relawan kami dioperoper dari satu dinas ke dinas lain untuk mendapatkan bantuan BPJS subsidi pemerintah bagi Raya.”


Berkejaran dengan waktu dari satu dinas ke dinas lain (Dinsos, Dinkes, Linjamsos).
Ditolak oleh birokrasi: Dinkes kabupaten menyatakan tidak punya anggaran dan malah menyarankan memindahkan pasien ke rumah sakit kabupaten yang lebih kecil, di Jampang.

Sementara itu, Raya terus meregang nyawa: Lebih dari 1 kilogram cacing hidup dikeluarkan dari tubuhnya. Cacing muncul dari hidung, mulut, kemaluan, hingga anus—masih hidup. CT Scan menunjukkan ratusan telur cacing sudah mencapai otaknya.

“Bagaimana mungkin kami mengikuti saran dari bingkai kabupaten untuk memindahkan raya ke rumah sakit yang lebih kecil di Jampang ketika kondisi raya sedang kritis seperti ini. Dan bahkan RSUD yang lebih besar di kota Sukabumi saja kewalahan melihat kasus Raya.”


16 Juli 2025 – Batas waktu administrasi habis. Raya ditetapkan sebagai pasien umum.

Tagihan hari ke-3: Rp11,6 juta.
Penanggung jawab resmi: Yayasan Rumah Teduh Sukabumi.

“Bukan kami pasrah saja bahkan sudah minta bantuan badan zakat besar di Sukabumi dan mereka menyatakan, tidak bisa memberikan bantuan kecuali melakukan penggalangan dana terlebih dahulu.”

22 Juli 2025 – Raya meninggal dunia setelah 9 hari dirawat.

Saat itu, tagihan rumah sakit telah membengkak hampir Rp23 juta.

“Menyesalkah Iin? Karena setelah habishabisan ternyata Raya meninggal juga.”

“Sama sekali nggak nak, nggak sama sekali.”

“Maafkan orang tuamu ya nak. Ia gak bisa mengurus Raya dengan benar sejak lama.”

“Maafkan pemerintah negeri ini ya nak. Yang tidak bisa cepat anggap melihat rakyat yang menderita seperti ini.”
“Dan maafkan kami juga ya nak. Yang terlambat tahu tentang penderitaan Raya.”

“Raya udah bahagia kan sekarang, udah gak kesakitan lagi.”

Kisah sepenuhnya: https://www.instagram.com/reel/DNYVRgqP_iN/


Bukan Kasus Pertama, Tapi Bukti Gagalnya Sistem


Kemiskinan yang membuat rakyat tak mampu berobat saat sakit adalah ironi di negeri yang katanya kaya.


Birokrasi yang berbelit dan tak berperasaan menjadikan keselamatan nyawa bergantung pada prosedur, bukan pada kebutuhan mendesak.


Ketika semua prosedur dipenuhi, ternyata waktu telah habis, dan nyawa telah melayang
Dimana kehadiran negara dalam perkara seperti ini?


Konstitusi kita tidak samar:
UUD 1945 Pasal 34 Ayat (1):
“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Namun yang terjadi adalah sebaliknya:
Yang dipelihara adalah kaum elite, para pejabat, dan mereka yang sudah mapan.
Sementara rakyat kecil harus bertaruh nyawa hanya untuk mendapat akses kesehatan dasar.

Siapa Rumah Teduh dan Mengapa Mereka Layak Didengar


Yayasan Relawan Rumah Teduh, atau lebih dikenal sebagai Rumah Teduh Sahabat Iin, adalah cahaya kecil di tengah gelapnya sistem.

Mereka adalah yayasan yang fokus pada bantuan pasien dhuafa yang sakit keras, menyediakan tempat tinggal sementara (rumah singgah) bagi pasien dan keluarganya.


Semua layanan diberikan gratis, tanpa syarat, kepada mereka yang benar-benar tidak mampu.


Rumah Teduh saat ini memiliki cabang di beberapa kota: Bandung, Jakarta, Sukabumi, dan Malang. Mereka telah merawat ratusan pasien dengan kondisi berat, hanya bermodal keikhlasan dan donasi dari masyarakat.

Mereka yang bekerja tanpa gaji. Yang tak tercatat dalam sistem pemerintahan. Tapi justru merekalah yang benar-benar hadir untuk rakyat paling bawah.

Saatnya Bicara Lebih Keras, Bertindak Lebih Nyata


Kematian Raya bukan sekadar duka, ini adalah tamparan telak bagi negara yang seharusnya berpihak pada rakyat kecil.


Relawan sudah melakukan tugasnya negara.
Tapi negara justru diam, lambat, atau bahkan tidak peduli.


Sampai kapan rakyat harus mati hanya karena miskin?


Sampai kapan birokrasi dijadikan alasan untuk abai terhadap penderitaan?


Dan sampai kapan negara hanya muncul dalam pidato dan bukan di ruang-ruang IGD?


Jika hari ini Raya, maka esok bisa anak kita, saudara kita, atau siapa saja.
Kita tidak butuh belas kasihan, kita butuh keadilan.


Negara tidak seharusnya hanya hadir saat kampanye, tetapi saat rakyatnya tak berdaya.
Dan bagi kami, para aktivis, relawan, dan suara-suara kecil di bawah, kami tidak akan diam.


Karena ini bukan sekadar kematian seorang anak, ini adalah bukti hidup bahwa sistem sedang sakit.