A H M A D T A U F I K .
(12 July 1965 – 23 March 2017)
Ahmad Taufik bekerja sebagai wartawan Tempo yang dibredel tahun (1994) oleh Menteri Penerangan Harmoko di era Orde Baru. Setelah pembredelan majalah Tempo, Detik dan Editor sejumlah wartawan mendirikan Aliansi Jurnalis Independen – AJI yang tidak diakui oleh pemerintah.
Sebagai anggauta AJI yang menerbitkan majalah Independen. Ia ditangkap dan dipenjara beserta Eko Maryadi dan Danang Kukuh Wardoyo selama tiga tahun.
Pada tahun 1995 Ahmad taufik mendapat penghargaan International Press Freedom Award dari the Committee to Protect Journalists.
Majalah Suara Independen No. 8/11/Maret 1996 memuat sebuah artikel tulisan Ahmad Taufik di kolom – dari SALEMBA (Penjara Salemba) yang berjudul “ SANTUN dan BERADAB”.
Tulisan ini kami publikasikan di Portal Suara Independen sebagai artikel untuk ‘Melawan Lupa’- yang ada relevansinya dengan pernyataan para pejabat pemerintah sekarang bahwa “ Kritik itu harus sopan dan Beradab.

S A N T U N D A N B E R A D A B
Oleh: Ahmad Taufik
Hujan lebat sejak malam di Hari Pers Nasional (HPN), hingga pagi tanggal 10 Februari menyebabkan rumah tahanan (rutan) Salemba kebanjiran. Seluruh sel kemasukan air setinggi hampir 20 cm. “Aku melarat karena Suharto, aku sengsara karena Harmoko, aku miskin karena (Haryanto, pen) Danu-tirto…”seorang tahanan pelaku pencurian laser disc melagukan kata-kata itu dengan nada dangdut yang biasa dinyanyikan Rhoma Irama.
Tahanan itu bukan seorang tahanan politik. Ia juga bukan anggota ABRI (anak buah Rhoma Irama). Ia hanya seorang tahanan biasa. “Baru kali ini di penjara saya kebanjiran. Mungkin karena kutukan dari Tuhan karena kelakuan para pejabat kita sekarang, “katanya dengan nada menggugat.
Saya yang masih mengantuk, hanya bisa tersenyum mendengar gerutuan itu. Lalu saya ingat beberapa hari yang lalu Presiden Suharto, pada peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal, Jakarta, dalam sambutannya menyatakan, “Setiap perbedaan yang ada, bisa diselesaikan dengan tegur sapa yang santun dan berkeadaban.” (Kompas,7/2/96).
Apakah kawan saya yang tahanan itu tidak santun dan tidak berkeadaban?
Yang jelas mereka adalah orang yang tertindas (mustadz’afin) oleh sistem yang tidak memberinya kesempatan hidup layak. Yang kesantunnya telah terampas oleh para pejabat yang serakah dan tidak beradab “Kalau saya punya pekerjaan saya tak akan mencuri, “sambungnya lagi.
Saya ingat lagi sebenarnya yang tidak santun dan berkeadaban dalam menyelesaikan setiap perbedaan pendapat itu siapa?
Sejak rezim Orde Baru diperintah oleh Suharto, setiap perbedaan pendapat itu selalu diselesaikan dengan tidak fair, ditangkapi, dikerasi dan perbuatan lain yang melecehkan kemanusiaan.
Korban-korban pun berjatuhan sejak Soeharto memerintah negeri ini.
Misalnya Mochtar Lubis, seorang jurnalis, korannya Indonesia Raya dibredel dan ditahan karena kritiknya terhadap korupsi yang melanda pejabat tinggi yang dekat lingkungan istana. Letnan Jenderal. (Purn.) H.Rekso Dharsono, salah satu pilar orde baru, ditangkap dan ditahan karena mengkritik Suharto dan pasukan militernya, ketika membantai umat Islam di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Saya, juga menjadi korban rezim Soeharto. Pada tahun 1994, majalah tempat saya bekerja dibredel. Lalu saya bersama-sama kawan se-ide meneruskan terbitnya jurnal untuk menjaga kemampuan dan ketajaman analisa persoalan kekinian. Dalam Forum Wartawan INDEPENDEN kami menganalisa soal unfair bisnis persnya keluarga Harmoko, soal perpecahan di tubuh kabinet yang sekarang, soal pertarungan antar elit pejabat yang bakal merugikan rakyat kecil, dan lain sebagainya.
Korban berikutnya adalah Sri Bintang Pamungkas, yang kini tengah diadili. Padahal Bintang hanya menyampaikan ceramah di Berlin dan Hanover, Jerman, Jadi, sebenarnya yang tidak santun dan tidak berkeadaban dalam menyelesaikan perbedaan pendapat itu siapa? Lalu saya ingat joke yang dilontarkan oleh Jenderal Polisi Hoegeng (bekas Kapolri), sehabis saya mencari informasi tentang polisi yang sekolah di Amerika Serikat. “Demokrasi itu artinya sing gede emoh dikerasi (yang besar-maksudnya pemimpin/Presiden Soeharto — tidak mau diingatkan, pen.), “kata Hoegeng.
Pada saat peringatan HPN, di Solo, Presiden Suharto kembali memberi pernyataan yang menghebohkan. Ia mengkritik soal pers kita kini. “Makin prihatin memperhatikan berita, tulisan atau gambar yang menyesatkan, membingungkan, meresahkan, mengandung ketidakbenaran atau melecehkan kemampuan berfikir khalayak,” kata Presiden Soeharto dalam sambutan yang dibacakannya sendiri.
Kritik itu tentu ditujukan pada pers kita kini. Padahal bisnis pers sekarang hanya dikuasai oleh kelompok orang orang tertentu saja. Misalnya televisi, selain TVRI yang milik pemerintah, lima stasiun televisi swasta dimiliki oleh kalangan yang dekat olehnya. SCTV dan RCTI sebagian besar sahamnya milik Bambang Trihatmodjo, anak sulung Presiden Suharto. TPI mbak Tutut. ANTEVE, milik Bakrie dan Agung Laksono yang (dekat dengan) Golkar. Lalu Indosiar, milik Antoni Salim, anak taipan Liem Soe Liong.
Media elektronik lainnya, Persatuan Radio Swasta (PRSSNI) diketuai oleh Tutut. Lebih dari 32 media cetak sahamnya dimiliki oleh keluarga Harmoko. Lalu ada Bob Hasan yang kini juga menguasai beberapa media massa cetak.
Soeharto juga menyebutkan soal media massa yang merugikan dan menguntungkan suatu pihak. “Akibatnya masyarakat tidak memperoleh gambaran yang lengkap, jelas, pasti dan utuh untuk membuat kesimpulan, “kata Soeharto lagi. Lho, berita akurat dan berimbang TEMPO soal pembelian 39 kapal perang bekas Jerman Timur, dibilang adu domba. Berita soal dana reboisasi yang dipakai IPTN, dianggap mengganggu.
Mau menulis soal monopoli cengkeh, beras, semen, tender jalan tol, dan kekayaan pejabat atau presiden sekeluarga agar masyarakat memper-oleh gambaran yang lengkap dan jelas. dianggap menghasut. Mau mencerdaskan kehidupan bangsa agar tahu soal hak asasi, kebebasan pers dan demokrasi dianggap mbalelo, anasionalis, dan ekstrim. Jadi sebenarnya yang melecehkan kemampuan berfikir khalayak itu siapa?
Hanya orang-orang yang beradab saja yang tidak menangkapi orang kritis yang berbeda pendapat. Ya, memang hidup ini akan berlalu, orang semakin tua dan semakin pikun. Setiap hari ada saja keluar pernyataan seolah-olah membebaskan diri dari dosa-dosa yang membelengunya sejak dulu. Februari lalu 50 tahun PWI, Maret ini 30 tahun Supersemar, Juni yang akan datang 75 tahun pemimpin kita.
Tapi ingat, Allah sudah memperingatkan dalam Al-Qur’an, “Janganlah mengira, bahwa Kami memberi tangguh (memperpanjang umur) kepada mereka itu lebih baik bagi diri mereka, sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka supaya bertambah-tambah dosanya dan bagi mereka azab menghinakan. “(Q.S.Ali ‘Imran: 178).
Dikutip dari SUARA Independen No. 8/11/Maret 1996. Halaman 16.
