‘Sebuah apel yang busuk dapat merusak sekeranjang apel.’ Apel busuk yang berbau menyengat memang dapat merusak apel-apel lain dalam keranjang. Namun, ungkapan ini ternyata tidak berlaku bagi manusia dalam satu kelompok. Manusia yang hidup dalam sebuah komunitas (keranjang) adalah individu-individu dengan pandangan hidup yang tidak seragam.

Memang sering apel yang busuk baunya lebih menyengat, sebagaimana manusia yang berpandangan diskriminatif suaranya lebih lantang namun bukan berarti suara yang lantang itu bisa merusak kerukunan hidup manusia dalam komunitas itu. Karena sebenarnya manusia yang tak bersuara lantang adalah manusia yang berpandangan terbuka dan yang berpandangan anti diskriminatif.

Kenapa hal ini saya utarakan di sini? Karena sebelum acara Konser Bersama Rakyat: Suara dari Melbourne untuk Indonesia yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 31 Mei 2025, terjadi diskusi panas yang bernada diskriminatif yang secara tidak langsung berhubungan dengan acara itu dalam salah satu Grup WhatsApp di Melbourne.

Untunglah diskusi itu tidak membuat saya, bahkan individu-individu yang secara tidak langsung menjadi sasaran hujatan, kehilangan semangat untuk tetap hadir dengan bangga dan bahagia dalam acara itu.

Semua yang hadir dalam acara yang diadakan oleh Melbourne Bergerak, Anekaria Melbourne, dan Portal Suara Independen di Armagh House itu tidak sedikit pun memandang perbedaan sebagai suatu hal yang aneh, apalagi sampai membuat orang batal menjadi anggota masyarakat yang inklusif.

Kita tentu tidak lupa bahwa kejahatan Adolf Hitler lahir dari pandang hidupnya yang eksklusif – yang memandang salah satu kelompok manusia lebih unggul dibandingkan dengan kelompok manusia lain, bahkan memandang kelompok manusia lain lebih rendah harkat dan martabatnya.

Kejahatan terhadap kemanusiaan seperti ini yang ingin disuarakan dalam Konser Bersama Rakyat itu. Dalam konser itu kita diajak untuk tidak lupa akan kekerasan terhadap kemanusiaan yang dialami oleh masyarakat keturunan Cina pada bulan Mei 1998.

Terlepas dari ada atau tidaknya kepentingan politik pada waktu itu, kekerasan terhadap masyarakat Indonesia keturunan Cina pada waktu itu lahir dari pandangan eksklusif di mana saudara-saudari kita yang sebangsa dan setanah air dari keturunan Cina dipandang sebagai Yang Lain – Mereka (the Others – Them).

Acara Konser Bersama Rakyat itu bertujuan untuk kita selalu ingat akan bahaya dari pandangan hidup eksklusif dalam hidup bernegara dan bermasyarakat. Supaya kelompok-kelompok minoritas dan yang termarjinalisasi oleh sistem sosial ekonomi dan politik tidak menjadi korban kekerasan lagi.

Sebagaimana dalam acara itu, semua yang hadir benar-benar diingatkan bagaimana mimpi seorang gadis remaja untuk menjadi penari profesional hancur lebur diremuk oleh buldoser politik yang berkuasa saat itu lewat monolog yang sendu diiringi oleh lagu-lagu yang menawan.

Lagu-lagu itu adalah rintihan suara-suara duka wanita yang berada di balik terali besi, yang mereka sendiri tidak tahu apa salahnya. Kemudian diikuti dengan berbagai lagu karya Iwan Fals, Lagu tentang Munir – sang pejuang Hak Asasi Manusia, serta berbagai puisi dan pidato dari berbagai kalangan.

Acara itu benar-benar diatur sedemikian rupa untuk mengingatkan kita akan pentingnya hidup damai dengan siapa pun tanpa melihat siapa dan apa orang itu.

Konser Bersama Rakyat itu diadakan di markas Initiatives of Change Australia, sebuah organisasi yang mempunyai visi *a just, peaceful and sustainable world to which everyone responding to the call of conscience, makes their unique contribution*. (Dunia yang adil, damai, dan berkelanjutan, di mana setiap orang yang menjawab panggilan hati nuraninya untuk memberi keunikan kontribusi mereka).

Tempat ini sangat cocok untuk maksud dan tujuan dari acara itu, yaitu mengingatkan kita untuk tidak melupakan kekerasan yang terjadi atas nama apa pun, terutama atas nama suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) sebagaimana terjadi pada bulan Mei 1998. Di mana di dalam kerusuhan itu salah satu etnik anak bangsa Indonesia menjadi target kekerasan. Dengan mengenang kejahatan-kejahatan terhadap kemanusiaan ini kita jadikan sebagai pelajaran yang sangat berarti bahwa pandangan hidup ‘kita’ dan ‘mereka’ (us and them) dalam takaran sekecil apa pun adalah pandangan yang diskriminatif yang tak jarang berujung pada kekerasan terhadap kemanusiaan atas nama SARA.

Acara Konser Bersama Rakyat itu tidak bermaksud untuk menghidupkan kebencian terhadap golongan tertentu tetapi sebaliknya, untuk tidak melupakan kekerasan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh elemen masyarakat yang berpandangan eksklusif. Acara itu juga mengingatkan kita akan pentingnya hidup dalam suasana dunia yang damai dan adil karena lewat suasana hidup yang demikian, kita berpeluang yang sama untuk mengembangkan talenta yang kita miliki dan berkontribusi dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.

Kontribusi kita untuk menciptakan suasana damai dan adil hanya bisa terwujud dalam masyarakat yang berpandangan hidup inklusif. Sebab dengan itu semua individu, siapa pun dia dan apa pun dia adalah kita. Tidak ada mereka dalam kamus manusia yang menginginkan hidup damai dan adil.

Dan hal ini sangat terasa dari aura orang-orang yang hadir di acara konser itu. Semua yang hadir adalah individu-individu yang memiliki keunikan masing-masing namun keunikan-keunikan itu dirayakan sebagai kekayaan yang membuat kita menjadi lebih kuat – lebih percaya diri bahwa kedamaian dan keadilan hidup akan terwujud dalam masyarakat multibudaya yang menganut pandangan hidup inklusif.

Memang tidaklah mudah bagi semua orang dalam suatu masyarakat berpandangan yang sama namun kita harus terus bekerja tanpa lelah untuk mempromosikan keadilan dan kedamaian dalam hidup kita setiap hari.

Tentu tidak mudah untuk merubah pandangan kita karena terkadang hati dan pikiran kita sudah terpenjara oleh dogma-dogma ajaran yang kita anut tanpa kita sadari. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk terus menerus menyadarkan diri kita sendiri agar kita benar-benar berubah menjadi orang yang inklusif.

Perubahan tidak biasanya terjadi dalam waktu singkat tetapi melalui proses yang panjang. Proses ini harus bisa menyentuh hati kita karena terjadinya perubahan dimulai dari hati kita; sebagaimana dikatakan oleh Mike Lowe dari Initiatives of Change Australia dalam kata sambutannya pada acara konser itu.

Apa yang disampaikan oleh Mike Lowe ini seirama dengan apa yang menjadi kepercayaan umum bahwa suara hati adalah suara yang membisikkan bahasa cinta kasih di mana bahasa ini tak mengenal benar dan salah dan baik dan buruk – yang ada adalah mencinta dan mengasihi tanpa alasan apa pun.

Jika hati kita bersih maka kita pun mampu merasakan getaran suara hati kita yang mencintai dan mengasihi sesama tanpa alasan – tanpa melihat siapa dia dan apa dia. Bahkan kita tidak hanya mencintai dan mengasihi sesama manusia tetapi juga mencintai dan mengasihi segala yang ada di semesta raya ini.

Betul bahwa perubahan harus dimulai dari hati untuk itu berlatihlah untuk membersihkan hati kita.

Oleh: KH Tokan, Melbourne, 7 Juni 2025

Foto dari D. Pratiwi. (Edited)