Di musim gugur yang cerah di Melbourne, di bawah langit yang biru dan angin yang sejuk, sekelompok mahasiswa dan diaspora Indonesia berkumpul di State Library Victoria pada hari sabtu, 1 Maret 2025. Suara mereka bersatu, menggema bersamaan dengan suara jutaan rakyat Indonesia di tanah air, dalam sebuah aksi protes bertajuk “Indonesia Gelap”. Ini bukan sekadar unjuk rasa; ini adalah seruan hati nurani untuk keadilan, demokrasi, dan masa depan yang lebih cerah bagi Indonesia.

Acara ini menjadi pertemuan yang penuh emosi, diisi dengan orasi yang membakar semangat, pembacaan puisi yang menyentuh hati, dan nyanyian yang menggetarkan jiwa. Dua puisi orisinal, yang dibuat khusus untuk acara ini, turut memperkaya pertemuan tersebut.

Puisi pertama, “KETIKA RAKYAT SUDAH DIBOHONGI”, menggambarkan betapa rakyat Indonesia dieksploitasi dan ditindas. Puisi ini bicara tentang kebohongan, suara yang dibungkam, dan janji-janji palsu, tapi juga mengajak rakyat untuk peduli, bangkit dan memperjuangkan hak mereka.

Puisi kedua, “MENCARI KEADILAN DI TANAH AIRKU”, adalah kritik tajam terhadap sistem yang menghukum rakyat kecil tapi membiarkan para penguasa bebas dari jeratan hukum. Puisi ini mempertanyakan apakah Indonesia telah mundur ke zaman di mana kekuasaan direbut dengan pertumpahan darah, atau apakah rakyat sudah tidak peduli terhadap ketidakadilan. Namun, seperti puisi pertama, puisi ini juga diakhiri dengan pesan harapan dan seruan untuk melawan korupsi, ketidakadilan dan ketidaksetaraan.

Suasana saat itu terasa begitu hidup. Saat puisi-puisi dibacakan, setiap kata terasa begitu berat, penuh kemarahan dan kekecewaan, tapi juga tekad yang membara untuk berubah. Para peserta, mulai dari mahasiswa, keluarga, hingga aktivis, berdiri bersama, menyanyikan lagu-lagu persatuan dengan suara lantang.

Aksi ini bukanlah momen yang berdiri sendiri. Demonstrasi serupa juga digelar di Jerman, AS, dan London, menunjukkan bahwa diaspora Indonesia di seluruh dunia tetap terhubung dengan perjuangan rakyat di tanah air. Gerakan di balik aksi ini, Melbourne Bergerak, telah menjadi pemacu, secara rutin mengadakan kesadaran politik untuk memberdayakan masyarakat dan menjaga semangat perlawanan tetap hidup.

Akar Masalah: Sistem yang Rusak
Situasi yang disampaikan dalam puisi-puisi ini adalah hasil dari sistem yang rusak, di mana kekuasaan dan kekayaan hanya terkonsentrasikan di tangan segelintir orang, sementara mayoritas rakyat dibiarkan menderita. Para pejabat dan elit yang korup adalah pihak yang paling bertanggung jawab, tapi kelemahan institusi dan sikap apatis masyarakat juga turut memperburuk keadaan. Untuk mengatasi masalah ini, reformasi sistemik, kesadaran kolektif, dan keberanian untuk menuntut pertanggung jawaban dari mereka yang berkuasa, dibutuhkan. Puisi-puisi ini adalah seruan untuk bertindak, mengajak kita semua bangkit, menuntut keadilan, dan bekerja menuju masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Jika kamu peduli dengan Indonesia, jika kamu percaya pada keadilan dan demokrasi, gerakan ini adalah sesuatu yang tidak boleh kamu abaikan. Aksi “Indonesia Gelap” bukan sekadar pertemuan—ini adalah pengingat bahwa perubahan dimulai dari kesadaran, dan kesadaran itu dimulai dari kita.

Mari bergabung dengan gerakan ini. Jadilah bagian dari perubahan. Karena perjuangan untuk Indonesia yang adil dan sejahtera adalah perjuangan kita semua.


Mari kita baca kedua puisi tersebut di bawah ini:

1. “KETIKA RAKYAT SUDAH DIBOHONGI”
(When the People Have Been Deceived) oleh Bela Kusumah

Ketika Rakyat sudah dibohongi.

Ketika Rakyat sudah dijejali jani-janji muluk.

Ketika kebebasan berekspresi Rakyat sudah dibungkam.

Ketika Rakyat terus dirayu dengan omon-omon belaka.

Ketika Rakyat hanya dibuai mimpi Indonesia emas.

Ketika kemiskinan Rakyat sudah diperjual-belikan

Ketika Rakyat sudah dicekik dengan kebutuhan sehari-hari.

Ketika Rakyat tergagap-gagap harus bayar pajak yang tinggi.

Maka, sekali lagi maka, Rakyat akan bangkit Mengepalkan TINJUnya menuntut keadilan sosial Di negeri yang seharusnya memberi kemakmuran kepada RAKYATnya.

Ketika Negara sudah diobok-obok seperti permainan TOGEL (Judi) nasi tumpeng

Ketika para pemain sirkus politik berjoged-joged diatas perut rakyat tanpa etika

Ketika para penguasa dan pengusaha saling selingkuh mesra di pelaminan parlemen.

Ketika Badan Usaha Negara dijadikan sapi-sapi perah untuk memperkokoh oligarki dan nepotisme.

Ketika Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dihambur-hamburkan demi kekuasaan

Ketika pajak rakyat yang mengucur dari pori-pori seluruh tubuhnya diperas demi impian Indonesia Emas

Ketika rakyat berderet-deret antri untuk meraih 5 liter minyak goreng dan gas 3 kg dengan dengan rasa pedih dan panas di dalam dadanya.

Ketika langitbiru mulai dikabuti awan yang menghitam dan badai yang mulai meradang di negeri Indonesia

Maka, sekali lagi maka, Rakyat akan bangkit Mengepalkan TINJUnya menuntut keadilan sosial Di negeri yang seharusnya memberi kemakmuran kepada RAKYATnya.

2. “MENCARI KEADILAN DI TANAH AIRKU”
(Seeking Justice in My Homeland) oleh Hilarius Tokan

MENCARI KEADILAN DI TANAH AIRKU Perih membakar  di dadakuHatiku amok membara

Mulutku tak henti meneriaki kesewenangan yang tak adil tanah airku 

Adilkah dia diganjar sepuluh tahun penjarah,

Walau hanya mencuri demi sebatang hidupnya?

Malang benar nasib rakyat.

Di mana keadilan yang menjadi  tonggak negara ini? 

Sedangkan Dia yang tenggarai menghilangkan nyawa manusia

Dibiarkan bebas tanpa setapakpun di meja hijau.

Apalagi  jejaknya di bui! Malah !

Kini dieluh-eluhkan untuk menjadi raja di tanah ini.

Raja yang berlagak sekan merawat keadilan bangsa

Dan raja yang menanam kesejahteraan perutnya atas nama rakyat. 

Apakah kita masih hidup di zaman Ken Arok?Sehingga darah harus ditumpahkan untuk sebuah taktha?

Atau kita anak bangsa yang malas tau akan keadilan?

Sehingga membiarkan dia menumpahkan darah dan keringat kita.

Demi sebuah taktha !

Bacaan tambahan: https://www.tempo.co/politik/diaspora-di-australia-demonstrasi-indonesia-gelap–1213719

Editor, Melbourne, 1 Maret 2025