Di sebuah ruang tamu yang remang-remang dan didekorasi dengan mewah, terdengar sayup-sayup alunan musik live yang menciptakan suasana elegan. Udara dipenuhi dengan aroma cerutu mahal dan gumaman kemenangan. Kelap-kelip lampu memancarkan bayangan dinamis di dinding yang dihiasi dengan lukisan-lukisan mahal. Ruangan itu adalah tempat berkumpul bagi orang-orang penting.
Malam itu tim saya bertugas menyediakan hiburan dan melayani mereka dengan makanan dan minuman.
Di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni yang dipoles mengkilat, Sesepuh Dewan Jon Falawi bersandar di kursinya, dengan senyum puas di bibirnya. “Bapak-bapak, Ibu-ibu, mari kita toast,” sambil mengangkat gelas kristal yang diisi dengan cairan amber. “Untuk kesuksesan kita. Dan sekarang, saatnya bersenang-senang.”
Tawa berderai di seluruh ruangan. Di seberang Falawi, raja minyak, Richard Tume, memutar-mutar cerutunya dengan penuh pikir. “Terlalu mudah,” katanya sambil tertawa. “Mereka akan percaya apa saja jika kamu menyajikannya dengan kata-kata yang tepat. Janji masa depan yang lebih baik, sedikit harapan, dan semua beres.”
Vivian Harjadi, raja media, bersandar ke depan, matanya berkilat dengan cahaya predator. “Hebatnya, mereka tidak pernah menyangkanya datang. Narasi yang kita susun sempurna. Kita adalah penyelamat mereka, pahlawan yang akan mengangkat mereka dari kemiskinan.”
“Benar,” tambah Ipul Peres, kepala sindikat preman kawakan. “Ketakutan dan keputusasaan adalah alat yang kuat. Kebijakan kita, hukum kita, semuanya dirancang dengan jitu.”
Ada gumaman persetujuan, dan beberapa gelas lagi diangkat dalam toast. Di sudut, CEO perusahaan tambang raksasa, Marko Sunjaya, sambil membetulkan kacamata berbingkai emasnya. “Program kesehatan baru adalah langkah yang brilian,” katanya dengan senyum tipis. “Mereka mendapatkan akses yang lebih baik ke obat-obatan, tapi biayanya..”
Falawi mengangguk menghargai, “Dan jangan lupa biaya kuliah yang lebih tinggi, berarti pinjaman masyarakat lebih banyak.”
Ruangan berdengung dengan kepuasan, setiap orang menikmati perannya dalam skema besar. Mereka adalah simfoni penguasa, masing-masing memainkan perannya dengan sempurna.
Di tengah selebriti yang berbaur dengan para pengusaha, pimpinan partai politik, dan pejabat negara, tampak seorang kepala ormas keagamaan duduk tenang di sofa. Ia ditemani oleh panglima adat berbaju merah, yang tersenyum dan mengangguk-angguk sambil menikmati sajian. Saya menjadi bingung, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Panglima adat yang terlihat selalu mengenakan pakaian merah, dikenal karena pidatonya yang keras dan penuh semangat, berjuang untuk hak-hak rakyat lokal yang terpinggirkan. Namun dia ada di sini. Apakah dia telah menjual dirinya? Apakah dia telah mengkhianati perjuangan panjang dan berat rakyatnya? Dan yang satunya lagi, koq ada pemimpin ormas keagamaan, apa hubungannya dengan penguasa-penguasa negara yang ada di pesta ini?
“Dan bagian terbaiknya,” tambah Richard, “adalah mereka bertengkar di antara mereka sendiri, saling menyalahkan.”
Vivian mengangkat gelasnya sekali lagi. “Untuk kelangsungan kekuasaan kita, cheers.”
“Untuk kekuasaan,” mereka berseru. Suara mereka harmoni, tapi terdengar bagai teriakan mengerikan di telinga saya.
Gelas-gelas berdenting bersama, dan ruangan itu penuh sesak dalam keramaian tawa angkuh. Setiap orang menikmati rasa manis dari hasil kerja mereka.
__ __
Dalam perjalanan pulang, saya melewati jalan yang becek memenuhi janji untuk bertemu teman, Sarah. Di sebuah tempat kumuh di pinggiran kota, suasana dipenuhi dengan kekhawatiran dan keputusasaan. Bahkan terdengar teriakan tangis dari balik tembok.
Saya menatap Sarah, bertanya tanpa suara. Sarah menatap balik penuh arti seakan tahu pertanyaan saya. Dia mempersilakan saya duduk dekatnya.
Ruangan itu dipenuhi dengan para pemimpin suku dan komunitas lokal, wajah mereka dipenuhi dengan guratan kesulitan dan kecemasan. Di tengah ruangan, api kecil berderak; satu-satunya yang memberikan kehangatan di malam yang dingin.
Kepala Suku Amani, seorang dengan wajah bijaksana dan penuh pengalaman, berbicara pertama kali. “Tanah kita, tanah leluhur kita, sedang dilucuti. Hutan-hutan yang telah menghidupi kita selama berabad-abad kini hilang. Pohon-pohon ditebang, satwa liar terusir. Apa yang akan tersisa untuk anak-anak kita?”
Maya, seorang pegiat komunitas muda, mengangguk setuju, suaranya gemetar dengan frustrasi. “Mereka menjanjikan pekerjaan, tapi yang kita lihat hanyalah janji-janji kosong dan kehidupan yang menyedihkan. Mereka mengambil segalanya dan tidak memberi apa-apa sebagai gantinya. Orang-orang kita kehilangan rumah, mata pencaharian mereka.”
Tariq, seorang petani yang baru saja kehilangan tanahnya, mengepalkan tinjunya dengan amarah. “Keluarga saya telah menggarap tanah itu selama berabad-abad. Sekarang tanah itu tandus, diracuni oleh keserakahan mereka. Kita tidak bisa menanam apa pun lagi, bahkan tidak bisa memberi makan diri kita sendiri.”
Hartini, seorang guru SMA negeri, menambahkan, “Reformasi pendidikan seharusnya membantu kita, tapi yang mereka lakukan hanyalah mendorong kita semakin dalam ke dalam utang. Anak-anak kita tidak punya masa depan jika kita tidak mampu membiayai kuliah mereka.”
Ruangan jatuh dalam keheningan suram, masing-masing orang bergulat dengan rasa sakitnya sendiri dan penderitaan kolektif komunitas mereka. Sarah, yang mana adalah seorang jurnalis independen, menyimak tanpa suara dan sekali-kali menoreh notes kecilnya.
“Kita perlu bersatu,” kata Kepala Suku Amani dengan tenang dan tekad yang teguh. “Kita harus berdiri tegak, bersama melawan ketidakadilan ini. Mereka pikir mereka bisa membungkam kita, tapi suara kita lebih kuat jika kita bersatu.”
Mata Maya berkilat dengan tekad. “Kita perlu menceritakan kisah kita. Menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi pada kita. Kita harus membuat mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka. Mereka mungkin memiliki kekuasaan dan uang, tapi kita memiliki kebenaran.”
Tariq memandang ke sekeliling ruangan, melihat anggukan setuju dan tekad bersama. “Kita tidak bisa membiarkan mereka menang. Leluhur kita berjuang untuk tanah ini, untuk cara hidup kita. Kita berutang kepada mereka, dan kepada anak-anak kita, untuk terus berjuang.”
Api berderak, memancarkan cahaya hangat pada wajah-wajah yang ada saat itu. Mereka lelah, tetapi pada saat itu, secercah harapan menyala. Mereka tidak sendirian dalam perjuangan mereka, dan bersama-sama, mereka akan menemukan cara untuk melawan dan merebut kembali apa yang telah dirampas dari mereka.
“Kita akan berdiri kuat,” Kepala Suku Amani mengangkat tangannya. “Untuk tanah kita, untuk orang-orang kita, untuk masa depan anak cucu kita.”
Gumaman setuju memenuhi ruangan, sebuah paduan suara ketahanan dan tekad. Malam itu gelap, tapi semangat mereka bersinar terang, menjadi mercusuar harapan di tengah-tengah kesulitan yang luar biasa.
__ __
Keesokan harinya sambil menunggu shift kerja berikutnya, saya mengunjungi kawan saya Sarah. Di sebuah kantor kecil yang berantakan, dipenuhi dengan buku, kertas, dan dengungan pelan komputer tua, dia dan Jamal duduk dalam diam. Insiden penggusuran dan penggundulan hutan baru-baru ini membebani pikiran mereka, sebuah pengingat nyata tentang masalah kronis yang melanda negara mereka. Dinding kantor aktivis itu bertuliskan pesan yang menggugah:
“Inequality is a bad creed, we unite to voice the weak, But oppression by the many, is the darkest fate we seek.”
Sarah, sang jurnalis, mengetuk-ngetuk pulpennya di atas buku catatannya, alisnya berkerut. “Ini cerita yang sama berulang kali,” katanya, suaranya penuh frustrasi. “Setiap kali kita melaporkan masalah ini, ada teriakan sebentar, lalu menghilang. Orang-orang jadi mati-rasa dengan penderitaan karena ini terjadi terus-menerus.”
Jamal, sang aktivis, mengangguk setuju. “Sayangnya, ini sudah jadi hal yang normal. Penindasan sistemik ini udah berakar sampai orang merasa tak berdaya untuk merubahnya. Mereka melihatnya sebagai bagian hidup yang tak bisa diubah.”
Sambil mendengarkan, saya melirik kertas di atas meja. Ada tulisan reformasi ijin tambang, ada sistem pembayaran kuliah, ada soal perumahan rakyat, ada proyek ketahanan pangan, topik pembangunan ibu kota, program ini dan itu tapi tak terbaca jelas dari tempat duduk saya.
Sarah memandang ke dinding, membaca kata-kata yang sudah sering dilihatnya sebelumnya, “Inequality is a bad creed… Itu benar. Kita terus bersuara, kita terus protes, tapi rasanya seperti sebuah duri di dalam semak. Orang-orang berkuasa terus mengeksploitasi dan menindas tanpa konsekuensi.”
Jamal menghela napas, menyisir rambut dengan tangannya. Saya ikut menghela napas. Bahkan lebih panjang. “Masalahnya sangat kompleks. Ini bukan hanya tentang tanah dan sumber daya; ini tentang sistem yang dirancang untuk membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin parah. Setiap kebijakan, setiap undang-undang, tampaknya menguntungkan mereka yang di atas sambil menghancurkan mereka yang di bawah,” katanya.
Sarah menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap atap berbecak rembesan hujan. “Dan rakyat kecil begitu sibuk mencoba bertahan hidup sehingga mereka gak bisa melawan. Mereka boro-boro punya sumber daya, waktu, atau tenaga untuk melawan.”
Mata Jamal mengeras dengan tekad. “Itulah mengapa kita harus berjuang. Kita tak bisa membiarkan ini menjadi norma yang diterima begitu saja. Kita harus menemukan cara untuk memberdayakan komunitas ini, memberi mereka alat dan dukungan yang mereka butuhkan untuk bangkit.”
Sarah mengambil pulpennya lagi, kilatan tekad di matanya. “Kita perlu menceritakan kisah mereka dengan cara yang menyentuh, yang mengguncang kepedulian orang terhadap penderitaan rakyat. Kita perlu membuat dunia melihat bahwa ini bukan hanya siklus berita lain, tapi masalah sistemik yang terus-menerus terjadi sehingga menuntut tindakan tanpa lelah untuk memperjuangan hak rakyat yang tertindas.”
Jamal mengangguk. “Dan kita perlu menyatukan mereka yang tertindas. Ketika rakyat bersatu, mereka kuat. Kita perlu menunjukkan bahwa suara mereka penting, bahwa mereka bisa berbuat sesuatu yang penting untuk diri dan anak cucu mereka.”
Kata-kata di dinding tampak bersinar dengan makna baru.
“Inequality is a bad creed, we unite to voice the weak, But oppression by the many, is the darkest fate we seek.”
Itu adalah seruan untuk bertindak, pengingat tentang pentingnya tugas mereka.
Sarah meraih kertas-kertas di mejanya dan membenahinya, “Kita gak bisa mengecewakan mereka,” kata Sarah pelan. “Kita harus terus berjuang, untuk mereka, untuk masa depan mereka, untuk keadilan.”
Jamal melirik saya, bangkit, meraih dan menaruh tangan di bahu kita berdua. “Dan kita akan! Bersama-sama, kita akan terus melawan kegelapan ini. Kita akan menjadi suara bagi rakyat kecil, dan kita tak sudi dibungkam.”
Pada saat itu, mereka berdua merasakan semangat baru bergelora di dada. Saya tahu pertarungan itu panjang dan berat, tapi mereka tidak sendirian. Dan selama mereka dan semua yang peduli terus berjuang, ada harapan untuk masa depan yang lebih cerah. Saya bertekad untuk menjadi bagian dari perjuangan itu.
Mari dengarkan dan resapi pesan yang terkandung di dalam lagu ini:
Cerita pendek fiksi oleh Mario Ngopi Dulu, diedit oleh Hilarius Tokan. Video musik, gambar profil, dan lagu “Inequality” dengan lirik oleh Mario Ngopi Dulu, diciptakan menggunakan berbagai perangkat digital.
