Waktu saya mengunjungi kantor Partai Solidaritas Indonesia – PSI Pusat di Jakarta bulan Juni tahun 2023. Saya disambut oleh pengurus PSI . Kami ( saya dan Istri) sengaja datang untuk menjumpai pengurus Partai yang kami harapkan bisa menyemarakan dan bersaing dengan jurdil dalam Pilpres 2024.
Di kantornya yang baru Gedung bertingkat tiga, saya cermati di sejumlah kamar peralatan kantor masih berantakan .
“ Kami baru pindah ke sini Bu”. Kata Pemuda itu, sambil mempersilahkan kami duduk di depan meja. Kami bertiga ngobrol-ngobrol tentang kampanye Pilpres dan sikap serta peluang masing-masing partai untuk meraih suara terbanyak. Saya tanyakan apakah PSI akan bergabung ke Prabowo, karena sudah ada kabar burung bahwa Prabowo akan mendekati tokoh-tokoh PSI seperti Grace Natalie.
+:” Banyak di kalangan, generasi Milenial atau Generasi Z lebih condong mendukung Prabowo Bang Bela”. Katanya sambil tersenyum.
Saya tidak kaget dengan jawaban itu. Dari pengamatan saya melalui media sosial, seperti Tik Tok. IG, Utube, dan Tweeter (yang sekarang ‘X’)- mantan Jendral Prabowo yang pernah dipecat mendapat banyak dukungan dari para penguasa dan pengusaha yang dikompori oleh para ‘Influencer’ dan ‘Buzer’.
Alasannya :“ Generasi muda sekarang ini tidak tahu peristiwa Kerusuhan Mei 98- mereka yang lahir tahun 1995 sampai sekarang itu baru berumur 30 tahun ke bawah. Mereka tidak mengalami dan menyaksikan peristiwa itu. Jadi kami tidak mengetahui kebenaran tentang jejak hitam Prabowo”. Demikian kata Sang Pengurus PSI yang mengklaim mewakili kawula muda.
Kerusuhan Mei 1998 dipicu oleh Krisis Moneter yang beruntun sampai mencapai puncaknya dengan peristiwa Semanggi II. Yaitu, aksi unjuk rasa besar-besaran ketika mahasiswa menentang RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya – PKB) dan Tuntutan mencabut dwi fungsi ABRI/TNI pada bulan September 1999.
Saya yang pada waktu itu bekerja sebagai Reporter Radio SBS menyaksikan bentrokan antara mahasiswa yang didukung masa melawan aparat baik dari pihak Kepolisian dan pihak TNI. Menurut Tim Relawan Kemanusian korban yang luka-luka 217 orang dan yang meninggal 11 orang diantaranya Yap Yun Hap ( FT UI, Zainal Abidin, Teja Sukmana, M Nuh Ichsan, Salim Jumadoi, Fadly, Deny Julian, Yusuf Rizal (UNILA), Saidatul Fitria dan Meyer Ardiansyah (IBA Palembang).
Kasus Kerusuhan Mei tahun 1998- sebenarnya rentetan dari dampak Krisis Moneter yang menghancurkan tatanan ekonomi Indonesia. Uang satu Dolar AS yang nilainya sekitar Rp.1500 – dalam kurun hampir dua tahun anjlok sampai mencapai Rp. 12000- Rp 15000. Bahkan sampai akhir pemerintahan Presiden Abdurachman Wahid mencapai Rp. 16.000.
Peristiwa lengsernya Presiden Suharto yang diikuti dengan pembakaran toko-toko, rumah dan Mal, pembunuhan, pemerkosaan, dan aksi-aksi kekerasan, diikuti dengan perebutan kekuasaan dikalangan para Jendral. Aksi unjukrasa besar-besaran dari perbagai elemen mahasiswa, LSM dan rakyat itu bangkit dibawah semangat Reformasi – yang intinya menuntut pemerintahan yang Demokrasi. Namun masa bersejarah yang terjadi seperempat abad iyang lalu itu sepertinya mudah dilupakan atau terlupakan, seperti yang disampaikan oleh Pengurus muda PSI. Padahal para ‘actor’nya masih berperan di balik dan di atas panggung politik yang sudah memenangkan Pilpres 2024:- “ tercatat paling cacat, karena diputuskan Hakim MK dengan 5 banding 3”.
Selama saya meliput Peristiwa Mei 1998 sampai Oktober 1999 di Jakarta, dengan bantuan teman-teman AJI ( Aliansi Jurnalis Independen) saya mengumpulkan photo-photo dari para wartawan, yang kemudian saya bawa untuk dipamerkan di Melbourne. Alasannya, photo-photo itu akan menjadi saksi sejarah yang saya harap Bangsa ini bisa belajar dari pengalaman yang dialami oleh para pahlaman Reformasi yang gugur, terluka dan gagal atau terhalang untuk meneruskan kuliahnya
Silahkan Generasi Z atau Generasi Millenia, atau para ‘Influencer the GEMOY’ mengamati photo-photo yang dipamerkan di Gedung OSB – Overseas Service Bureau ( sekarang AVI – Australia Volunteers International) bersamaan dengan ‘Human Rights International Day’ pada tanggal 10 Desember tahun 1999.

“A photopgraphic Testimony of the May 1998 Riots in Indonesia” “Penangkapan Mahasiswa” Yogyakarta, April 12, 1998 Photographer: Tarko Sudiarno Not only were students arrested and interrogated by the military, the police, and intellegence agencies, the government also hired civilian informants to spy on students. As one student put it ” The government has became an ABRI state rather than a police state.

A photopgraphic “Testimony of the May 1998 Riots in Indonesia Yogyakarta, May 8, 1998. Photographer: Johny Adi Aryawan One of the students lay unconcious on the tarmac after the protestors clashed with the military apparatus. The victim as draggged into a truck.

“A photopgraphic Testimony of the May 1998 Riots in Indonesia” ” Searching for Target” Trisakti, Jakarta, 12 Mei 1998 Photographer: Edy Haryoso
https://www.facebook.com/notes/1163354860726727/
“ Saya melihat tumpukkan mayat yang mati terbakar di sebuah toko serba ada dan saya sempat menolong seorang perempuan korban pemerkosaan “ Demikian pengakuan seorang ibu yang saya wawancarai di sebuah kantor NGO di Jakarta bulan Juni tahun 1998. Seorang juru kamera dari reporter TV Eropah menyorot “close up” wajah wanita yang matanya basah sambil memotong pertanyaan yang saya ajukan.
“ Did you see how many bodies? ” Potongnya dengan bahasa Inggris aksen Belanda. Sambil menggigit bibirnya, Ibu menceritakan kesaksiannya dengan terinci, apa yang dilihat dan dilakukannya membopong perempuan setengah telanjang, yang kulitnya kusuh dilumuti warna arang, hitam dan luka –luka.
Kesaksian seorang Ibu itu bagai sebuah gambaran surealis. Saya bayangkan Edvard Munch mencoret sebuah kanpas putih mencoba meraup-kisah kesaksian Ibu, dengan semua naluri seni, kemudian memuncratkannya dengan warna sepia. Mungkin hasil karyanya lebih terkenal dari karya lukisannya yang mendunia “The Scream” – karya eksplorasinya tentang life, love, fear, death, and melancholy.
Akhir Juni 1998, saya kembali ke Melbourne. Di sebuah kamar editing yang berukuran 2 x 2 1/2 meter berdinding kedap suara, saya cermati berkali-kali rekaman wawancara itu. Naluri kesadaran saya masih terombang-ambing antara imajinasi dan realitas. Saya siarkan malam itu di radio dengan judul ” Kesaksian Seorang Ibu Dalam Kasus Kerusuhan Mei 1998”.
Selesai siaran saya meninggalkan studio tergopoh-gopoh lari ke meja kerja mengambil telepon yang berdering-dering.
“ Ya, ..”. Jawab saya.
“ Nama saya Lily (bukan nama asli)”
Namun beberapa saat, tidak ada suara, diam dan beku.
“ Saya mendengarkan siaran bapak, rumah saya dibakar pak, sampai mereka (penjarah) masuk ke kamar saya, semua pakaian habis”. Katanya terisak-isak.
“ Bagaimana anda selamat dan tahu semua pakaian dijarah?” Tanya saya.
“ Untung saya tidak ada di rumah, saya pulang saya dikasih tahu oleh tetangga dan satpam setempat “ lirihnya.
Kesaksian Ibu dan telepon dari Lily menggugah saya untuk mengumpulkan photo-photo kasus kerusuhan berdarah Mei 1998. Kalau Edvard Munch berhasil memberitakan tentang adanya rasa ketakutan dan kematian di negerinya melalui karyanya” The Scream”, mungkin saya bisa mengangkat karya teman-teman wartawan photo yang berada sebagai saksi di antara puing-puing toko serba ada, di kerumunan masa, atau di jalan-jalan, bahwa Kerusuhan Mei 1998 adalah sejarah hitam yang tidak boleh dilupakan!
Bela Kusumah
Melbourne 3 Mei 2009
Photo-photo ini dipamerkan dalam rangka Hari Amnesty International di Melbourne Desember 1998.
Note: Penulis bekerja sebagai Journalist/Broadcaster and Executive Producer SBS Radio Indonesian Program ( from 1988 to 2008). Executive Director of “Yayasan Suara Independen” – Yayasan yang mendukung majalah Suara Independen yang diterbitkan AJI ( 1994-1998) dengan alamat Melbourne.
Foto-foto lainnya bisa dilihat di https://www.facebook.com/notes/1163354860726727/
Beberapa Komen oleh netizen:
Setuju sekali pak Bela..jangan sampai kita lupakan dan yang paling penting adakah peristiwa penjarahan dan pemerkosaan itu pernah di usut secara tuntas…ini kiranya yang harus diperjuangkan secara sama-sama..dan bagaimana pernah ada pengakuan bahwa kebanyakan yang melakukan pemerkosaan adalah mereka yang berambut cepak…semoga misteri ini segera terkuak. terima kasih dan salam dari madiun.
Yang sangat biadab adalah penyangkalan pemerintah bahwa kasus2 pemerkosaan itu tidak pernah ada. Negara gagal melindungi warga negaranya sendiri.
Karena kita sepakat bahwa ini negara hukum, betapa pun kemropok hati kita, vonis itu merupakan otoritas pengadilan, sekalipun banyak aparatur bermasalah dan pembuktian kasus perkosaan bukan main sulitnya. Perjuangan bisa dimana saja. Hati saya merekah membaca AJI memprotes kapitalisasi media, misalnya. Pun bila garang pada manipulasi media dalam kegiatan politik. Perjuangan semacam ini, untuk AJI, akan membawa maslahat besar yang tidak kalah pentingnya dari gerakan yang terfokus pada satu kelompok saja. salam.
Bayangkan bagaimana sakit hati para korban mendengar bahwa sejumlah tokoh di elit politik tidak mengakui bahwa hal itu terjadi…
BK:kayaknya sudah waktunya kita melakukan kampanye lebih luas lagi mengenai kejadian lampau yang tidak terselesaikan. Kita harus melakukannya secara akurat,imparsial dan independen. Kita bisa mulai mengumpulkan lagi serpihan serpihan seperti yang anda tampilkan sekarang…
mrk para pelaku boleh aja lepas dr jerat hukum dunia krn kkn, nepotisme dan krn msh ada kuasa. tp hukuman Allah gak akan pernah lalai. mrk pelaku akan trs memdapat azab batin di dunia dan azab Allah di akhirat. qta trs doakan, kebenaran akan menjukkan dirinya.amin!
Membaca ini .. kembali mengingat masa2 itu.. ketika saya + mobil berpacu dengan massa.. Hanya Radio Sonora yang membantu memberikan tempat2 yang terblokir.. Apalagi saya wanita dan “Cina” pada waktu itu sangatlah tidak menguntungkan.. Untunglah saya selamat.. tapi tragedi itu tidak akan pernah saya lupakan.. ketika orang2 yang tidak pernah mengalami itu mengatakan .. “ah.. cuman dibesar-besarkan” .. andaikan orang itu berada di posisi saya (dan juga kakak saya yang nyaris jadi korban di ringroad cengkareng).. mungkin mereka tidak akan mengingkarinya. Mungkin Radio Sonora masih mempunyai rekaman penyiar saat itu jalan2 mana saja yang habis terbakar… saya masih ingat 3-5 menit setelah saya lewat daerah tersebut sudah terkepung massa dan terbakar…
Tak ada gading yang tak retak, biarlah itu jadi bagian sejarah dimana pelakunya akan tercatat dengan balutan darah anak bangsa, tapi jadilah kita bangsa yang besar, agar dendam tidak dibalas dendam yang akhirnya membawa kepada kehancuran bangsa
Oleh: Bela Kusumah Kasim. Mantan wartawan Radio SBS. Wartawan Senior AJI- Co Founder Yayasan Suara Independen Melbourne.
